Hesti adalah seorang anak yang cerdas, periang dan berprestasi di sekolahnya. Kini dia sedang menempuh sekolah dasar di SD Wulasi, Konawe Selatan. Tak hanya itu, diapun pandai bergaul juga tak pernah menutup diri bersama teman-temannya.
Suatu ketika dia diutus menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti seleksi Tiwatul Qur’an di desanya. Dia pun lulus dan mendapat apresiasi berupa piagam penghargaan beserta uang pembinaan.
Meski hanya lulus pada tingkat desa, akan tetapi dia tak pernah merasa kecewa atau putus asa atas apa yg telah dicapainya. Uang pembinaan yang diperoleh, ditabungnya bersamaan dengan uang jajan yang diberikan bapaknya untuk persiapannya kelak.
Hal ini pernah di tanya oleh bapak “Nak kemana uang yang kamu dapat juga bapak kasih?” Hesti tabung pak, untuk biaya masa depan hesti, biar bapak tidak susah lagi nanti, jawab hesti dengan polosnya”.
Di balik pencapaian yang diraihnya, terlilit rasa pedih dibaliknya. Sakit yang dialami membuatnya dengan terpaksa mengurangi jatah keceriaan kecilnya. Proses belajar termasuk bacaan dan hafalan qur’an yang seharusnya dinikmati lebih lama, kini hanya beberapa menit saja sudah dilepasnya. Waktu bermain yang selalu diinginkan anak seusianya, harus digantikan dengan banyak beristrahat di kasur empuk miliknya.
Hal itu harus hesti relakan karena derita rasa sakit ketika membungkuk dan duduk yang terlalu lama begitu menyerang tubuhnya.
Skoliosis, itulah yang dialami hesti saat ini. Kondisi di mana tulang belakang mengalami perubahan bentuk melengkung ke arah samping serupa huruf S. Keadaan ini jika dibiarkan oleh hesti, maka akan semakin parah. Dalam jangka panjang bisa menimbulkan gangguan pada fungsi paru-paru dan jantung, penyempetian pembuluh darah bahkan fatalnya adalah “Kematian”.
Olehnya itu bapaknya mencari banyak jalan tempuh untuk kesembuhan anaknya. Melepas dengan ikhlas status “Guru Honorer” yang diembannya saat itu, hanya demi anak tercintanya. Hal ini karena gaji honorer yang diperoleh bapak tak cukup untuk membiayai proses pengobatan hesti. Akhirnya bapaknya pun harus bekerja serabutan dan membanting tulang mencari hingga 24 jam puing demi puing rupiah berharga anaknya. Hingga membawanya menjadi buruh bangunan saat ini sebagai penghasilan utamanya.
Bapak hesti dengan status masyarakat pendatang biasa ini pun, harus termakan janji-janji politis para politikus yang akan turut membantu biaya pengobatan anak kesayangannya itu. Akan tetapi uluran tangan mereka pun, belum sampai di depan pintu rumah hingga saat ini. Entah apa yang dicari para politikus itu pada kami terutama seorang bapak pejuang ini, hingga harus masuk perangkap tikus mereka.
Karena masih kurangnya biaya pengobatan serta ketidakpastian bantuan yang dialaminya, bapak hesti masih terus mencari pertolongan hingga saat ini. Jiwa besar hesti pun membuatnya turut berperan membantu kesusahan bapaknya. Tabungan yang selama ini disimpan sekira 6 jutaan diberikan kepada bapak demi pengobatan dirinya. “Pak, kalau uangnya kurang, ini pake punya hesti saja, sahutnya dengan iklhasnya”. Sungguh anak yang sangat patuh dan mengerti dengan kondisi kedua orang tuanya.
Jalan waktu kemudian membawa bapak hesti menemui kami. Bercerita banyak hal terkait kondisi anak kesayangan juga kehidupan keluarga hariannya seperti sebagian besar telah ditulis. Saat kami mendengar curhatan beliau terutama saya pribadi, rasa haru bercampur aduk menyelimuti diri. Keinginan besar untuk segera menolong beliau sudah tak tertangguhkan. Wajah berkaca-kaca terpancar dari raut muka beliau. Hal yang selama ini mustahil bagi bapak hesti capai, alhamdulillah telah terbuka jalannya.
Akhirnya kami pun memfasilitasi keinginan bapak hesti untuk kesembuhan anaknya. Membuka komunikasi bersama BEM serta Wakil Dekan III Kedokteran UHO untuk mengecek ulang kondisi hesti. Pada puncaknya dr.Rustamlah yang kami temui dan siap membantu proses ronsen ulang tulang belakang hesti beserta rujukan operasi ke Rumah Sakit Wahidin Makassar melalui BPJS yang dimiliki oleh ayahnya. Meski tapak demi tapak perjuangan mencari biaya pengobatan sudah dilaluinya, namun hingga saat ini tabungan itu belum juga cukup. Dan kami terkejut mendapat kabar bahwa untuk menutupi semua biaya pengobatan, perawatan, penginapan dan perjalanan hesti ke Makassar kisaran 5-10 juta, bapaknya dengan rela akan harus menjual aset perabotan beserta rumah kesayangan miliknya demi kesembuhan anak tercintanya.
Begitulah kisah hesti beserta bapaknya yang sebagian deritanya telah tertulis. Dan hingga saat ini mereka masih luntang-lantung mencari pertolongan tulus lainnya. Tetap kuat dan semangat hesti menghadapi takdir Tuhan ini. Semoga bantuan itu dengan cepat terjawab agar dalam waktu dekat proses pengobatan penyakit hesti di Makssar bisa terlaksana. Amiin
-T.R-




