Kadang aq bingung pada diri, mengapa rasa empati itu begitu kuat mengakar, hingga diri bahkan keluarga pribadi menjadi terabaikan dengan sikapnya. Selain itu aq sering berdialog tentang “Kondisi Ekonomi Masyarakat” Mengapa aq selalu merasa iba melihat mereka para pemulung, pengemis, gelandangan, bahkan tak tanggung aq dipertemukan langsung pada mereka “Pekerja Seks Komersial”.
Bersama abang yg sekaligus ku anggap sebagai guru tempatku belajar & berbagi, akhirnya jawaban itu ku temukan. Beliau berkata bahwa apa yg telah kulalui hingga saat ini adalah titipan rasa & perjuangan yg telah ada dari generasi” sebelumnya.Bahkan itu memungkinkan telah menjadi takdir hidupku.Atas jawaban yg bagiku masih belum terasa memuaskan, ku gali lagi lebih dalam rasa penasaranku. Diskusi yg begitu panjang jua detail beliau berikan.
Secara singkat ku jelaskan bahwa penyebab utamanya yakni kondisi “Sistem Keuangan Negara” yg di kelola dengan basis “Utang juga Riba”, menyebabkan efek domino pada putaran uang & rezeky manusia.
Di mana setiap yg didapati sekarang adalah hasil dari produk “Ekonomi Ribawi”.
Solusi yg sebenar & sebaik”nya atas kebuntuan absolut itu pun di paparkan hingga teknis sampai pada basis individu & alamat. Diriku terhentak girang mendengarnya. Dengan spontan ku berkata, Bang ini laiknya “Surga” jika telah terealisasi. Dari sekian perjalanan panjang diskusi, aq telah meyakinkan hati bahwa ini adalah jalan Kebenaran Tuhan.
Namun, dibaliknya ku bertanya:
Benarkah ini Takdirku? Benarkah ini Hidupku? Benarkah ini jalan Juang & Matiku? Membantu perjuangan manusia u/ melepas diri dalam jeratan “Sistem Ribawi”? Jika ini memang jalanku juga takdirku u/ membantu perjuangan, istiqomahkanlah aq u/ selalu teguh berdiri di atas Kebenaran-Mu
Karena dunia saat ini telah membuatku hampa, bahkan tidak tertarik lagi padanya.
Kekayaan, pujian, serta nafas dunia lainnya, seakan telah menjauh dariku.
Hanya ikthiar bertahan hidup serta persiapan masa depan saja yg mungkin ku lakukan sesuai benang hidupku.
“Nyawaku & Jasadku tak tau kapan Engkau ambil.
“Ku pasrah & ikhlas jika ini menjadi takdir bak jalanku menuju pada-Mu.




