Jum. Jun 14th, 2024
Raha, Kabupaten Muna
*Foto By Abhy Negara

 

Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kalian memahaminya? (QS. Al-An’am:32)

Kehidupan dunia yang fana ini seperti titik-titik waktu yang dijalani sampai membentuk garis finish tak menentu.
Hubungan seseorang dengan dunia ini hanya seperti garis linear.

Garis lurus yang berujung pada kematian. 
Sepanjang apa pun kita menoreh garis keberhasilan dunia.
Setinggi apa pun status kedunian yang kita duduki.
Dan sepanjang apa pun kita mengumpul harta serta tahta bak melambung tinggi kelangit.

Namun akhirnya akan menuju pada garis kematian.
Yang tak kita tau kapan waktunya dan dimana di tempatnya dia akan datang menghampiri.
Entah bulan depan, minggu depan, besok, atau saat kita hendak beranjak dari posisi saat ini.

Dalam alur kehidupan yang kita jalani kita sering dihadapkan dengan “Realita Kehidupan” yang mencekram untuk tidak lepas dari hiru pikuknya dunia.
Mencari tumpukkan harta yang tak terbendung tolak ukur kepuasannya.
Bahkan kadang kita menjadikan mereka Tuhan baru dalam kehidupan.
Lupa bahwa semuanya hanyalah titipan termasuk diri ini tentunya.

Kekayaan harta dan tahta yang begitu keras kita cari tidak akan terbawa saat Sang Malaikat Maut itu mengetuk pintu kamar kita.
Tak terkecuali kita membuatnya aktif menjadi penolong kedepan.
Menjadi saksi di hadapan hakim tertinggi kehidupan.
Sesuai dengan cara bak jalan yang di tuntunkan.

Dunia ini Fana.
Hanya tempat singgah sesaat.
Tempat untuk tidur sejenak.
Tempat hanya untuk sandiwara belaka.
Dan hanya tempat untuk mengumpulkan puing-puing amal sebelum “Kematian itu Menghampiri”.

 

Sebab Dunia ini Fana, dan Semua Akan Kembali PadaNya, Lantas Sudahkah Kita Siap Jika Panggilan itu Datang?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X