Sab. Jan 17th, 2026

Sebuah ungkapan kontroversial yang pada hakikatnya sarat dengan makna yang mendalam.Diungkapkan oleh seorang yang sangat fenomenal . Beberapa kalangan ahli agama ada yang menganggapnya sesat, kafir hingga mendapat celaan orang gila. Meski begitu sejatinya itu cuma penilaian sepihak dari subyektifitas masing-masing individu saja. Tidak perlu diperdebatkan, biarlah itu menjadi pandangan pribadi
Meski demikian, kalau diresapi dengan baik ungkapan yang dimaksud belum tentu keliru. Dialah Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad Ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad Ibn Abdullah Hatimi at-Ta’i  atau lebih dikenal sebagai Ibnu Arabi yang merupakan seorang sufi termahsyur dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam. Beliau mengatakan bahwa “Tuhan Yang Kau Sembah Ada Di Bawah Telapak Kakiku”. Ucapan ini dengan lantang dan terang di suarakan olehnya di hadapan para penduduk sebuah desa yang kental terhadap pemahaman agama.

Kontan saja ucapan beliau menusuk hati para santri desa tersebut. Lantas kemudian beliau langsung dijustifikasi orang yang sedang tidak waras. Akan tetapi, Syaikh Ibnu Arabi tidak sembarangan mengatakan itu. Beliau berbicara demikian karena mengetahui bahwa walaupun banyak orang di desa itu yang kelihatannya alim, taat beragama, tapi sebenarnya hati mereka masih serakah terhadap harta, kekuasaan dan hal-hal duniawi lainnya. Maka dari itu dia berkata “Tuhan Yang Kau Sembah Ada Di Bawah Telapak Kakiku” Karena Tuhan mereka bukan Tuhan Yang Maha Tunggal namun, Tuhan Kekusaan, Tuhan Jabatan tak terkecuali Tuhan Harta/Materi.

Pernyataan menarik dari Ibnu Arabi di atas tentunya hingga hari ini masih terjadi. Di mana kondisi manusia saat ini telah di perbudak oleh namanya harta berupa “Uang”. Tuhan manusia 180 derajat berputar haluan hingga telah berkiblat pada lembaran-lembaran kertas tersebut. Aktivitas shalat 5 waktu, shalat sunnah yg dilaksanakan, hafalan Quran yg di lantunkan masih memiliki energi yang lemah hingga harus tergadai dan kalah oleh satu benda bernama “Uang”. Segala cara dilakukan agar benda pusaka hidup tersebut dapat kita raih, meski dengan jalan yang berbau syubhat atau “haram” sekalipun.

Entah di mana wujud dari pengalaman agenda ke Keislaman atau Ketuhanan yg kita lakukan itu?
Disinilah pertanyaan yang diri yang menyayat hati mulai bergeming.
Ada apa dengan manusia-manusia penghamba agama hingga harus tunduk padanya?
Bukankah ketika kita jualan shalat, puasa, hafalan Quran tapi masih jatuh pada cara hitam mendapatkan itu, kita termasuk orang yg munafik pada diri sendiri?

Suap, pekerjaan gelap, korupsi, pungutan liar, dan hal-hal buruk lainnya yg sudah tidak ternilai buruk demi mendapatkan pundi-pundi rupiah rela untuk dilakukan agar hari ini dan kedepannya bisa bertahan hidup. Meski sejatinya uang yg diperoleh secara halal sudah mampu mencukupi kehidupan diri, akan tetapi sifat ketamakan manusia yang tidak di puasakan mendobrak nilai-nilai keimanan yang selama ini di pikul.
Begitulah “Uang” mampu menjual harga diri, sifat keTuhanan manusia, dan ketaqwaan yang telah di bangun. Membuat kita menjadi orang yang sama sekali tidak memiliki kejujuran pada diri sendiri alias munafik sebab hanya bertopeng di balik rutinitas ibadah yang terlihat semata tapi tak berwujud pada pengamalan.

Tak hanya itu tentunya, “Uang” pun menjadikan manusia buta dan berubah 180 Derajat. Dapat berubah dari baik menjadi jahat, kawan jadi lawan, perawakannya katanya alim bisa jadi jahil, suka menepati janji berubah jadi ingkar janji, tidak biasa bohong bisa jadi seorang pembohong, hingga yang katanya ustad pun bisa jadi pembelot. Bahkan tak ubahnya “Uang” pun mampu merenggut nyawa manusia bergelimang darah karena ketidakmantapan “Ketauhidan” yang dimiliki. Perang saudara, kekacauan, aksi saling bunuh sesama sahabat, perebutan keras harta warisan, penipuan, dan keadaan lainnya adalah fakta lumrah yang terjadi di masyarakat karena bom waktu bernama “Uang”. Keadaan ini bisa kita alami pada orang terdekat kita atau tak tanggung-tanggung orang yang selama ini kita percayai bahkan sudah menggapnya sahabat karib, keluarga atau ikatan persaudaraan lainnya harus retak. Akhirnya juga tak kuasa sambung lagi karena dipicu oleh persoalan yang sama yakni perebutan keping-keping logam atau kertas berharga yg bisa memuaskan hasrat konsumtif pribadi.

Dialah ” Tuhan yg berada di bawah Telapak Kakiku”.

Kondisi ini harus saya akui adalah keadaan yang normal. Tingkat kebutuhan manusia yang tinggi, keadaan mendesak, masalah utang, persiapan masa depan, uang jajan anak juga istri, dan segala problematika diri yang menyelimuti sejalan dengan jumlah uang yang beredar terbatas memaksa manusia melakukan segala hal agar tabungan keuangannya bertambah. Defisitnya anggaran keuangan yang berefek pada sistem persaingan hidup menggoda kita agar harus memaksimalkan keadaan apapun itu meski melanggar aturan yang ada tak terkecuali terkoyaknya keimanan diri seperti pada narasi di atas.

Tapi bagi saya pribadi meski kondisi keuangan terbatas, selama itu masih mampu membuat saya bertahan hidup, maka saya tidak harus mengobral keimanan saya laiknya barang jajakan. Hingga menjadi orang yang munafik atas pemaknaan saya dari maksud pelaksanaan ibadah yang sering dilakukan. “Innashalata tanha ‘anil fahsya’-i wal munkar.”

Berlindung di balik topeng aktivitas ibadah yang semu meski arah mata memandangnya.
Sebab masih ada jalan lain yang dapat saya lakukan untuk memeroleh keuangan itu ketimbang mengambil jalan pintas gelap tersebut.
Di satu sisi pun saya pun mengetahui bahwa “Uang” saat ini telah berada pada status “Riba” yang terjadi akibat pengelolaan sistem. Karenanya saya tidak ingin menambah lagi berat bebannya dengan hal-hal yg justru merendahkan harga diri saya sebagai manusia yg BerTuhan.

QS: Al-Isra’ Ayat 7

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرً

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

Olehnya itu semoga ucapan Ibnu Arabi dan narasi tulisan saya di atas dapat menjadikan pertimbangan kita dalam memilih langkah yang tepat, baik, benar dan bijak untuk mengarungi samudera kehidupan. Memilih jalan yang tidak mudah untuk menggoyahkan keimanan menuju Tuhan dengan hal-hal gelap yang justru bertentangan dengan ajaran agama yang diyakini hingga malah akan menjatuhkan kita. Sebab jika langkah itu kemudian yang kita pilih maka tidak usah terlalu jauh mencari Tuhan hingga ke masjid atau mushola-mushola yg justru menguras waktu juga tenaga, “Carilah Tuhan di Bawah Telapak Kakiku”.

Lantas “Uang atau Tuhan Pencipta Alam Semestakah yg Kita Sembah”?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X