Jum. Jun 14th, 2024

“Peran Pemuda dalam Menjaga NKRI”

Pagi menjelang siang itu, di tengah kegabutan yang melanda diri, dengan rasa kehausan ilmu dan keikhlasan berbagi solusi membuat saya turut serta dalam diskusi hangat dengan tema ” Peran Pemuda dalam Menjaga NKRI” yg di adakan oleh Himpunan Pelajar Muslim Indonesia (HILMI).

Salah satu alasan yang menggugah  saya untuk ikut dalam forum tersebut di luar alasan lainnya adalah adanya ustad favorit saya bernama Ustad Zaitun Rasmin. Beliau merupakan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Indonesia. Beliau pun di amanahkan sebagai Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia.  Tentunya bagi kita semua sudah tak asing dengan ustad yang satu ini. Pada waktu belakangan terakhir beliau seorang yang selalu vokal terkait kondisi Islam dan Kenegaraan saat ini. Tak jarang kita  sering melihatnya hadir dalam beberapa acara diskusi bahkan debat seputar wawasan keIndonesiaan/KeIslaman mewakili MUI di berbagai  kanal televisi negeri ini.

Dalam obrolan yang hangat via zoom meeting tersebut beliau berbincang pada kita bahwa sebagai pemuda dan pelajar Islam agar mampu mengembangkan potensi diri (skill) sesuai minat yang diinginkan. Selain itu kita dituntut untuk memperbanyak bacaan buku, dan  diskusi, berani untuk mengemukakan pendapat, bahkan pelajaran debat (positif) yang bertujuan untuk mempertajam analisa dan meningkatkan khazanah ilmu menjadi satu usulan beliau.

Disi lain, beliau menyarankan agar dalam setiap kajian keagamaan-keIslaman wajib di selingi dengan penggalian Sejarah Bangsa, Perjuangan Para Ulama/Pahlawan dalam menjaga NKRI, hingga Pendalaman Nilai-Nilai Pancasila yang seyugiyana tepatri disetiap jiwa para penerus  kader dakwah dan generasi bangsa ini.

Setelah beberapa materi beliau suguhkan, hingga masuk pada sesi diskusi, saya adalah orang pertama dengan penuh semangat mengajukan raise hand untuk  menyampaikan pernyataan juga pertanyaan yang sudah menggeliat dalam diri.

Saya pribadi mengutarakan bahwa sebelum masuk pada langkah peran pemuda yang harus diambil dalam menjaga NKRI maka ada hal-hal yang perlu kita telaah lebih jauh tentang kondisi  negeri ini. Baik itu dari sisi potensi Surga Kekayaan Alam dan Manusia yang dimilikinya, tak terkecuali pada problem utama yang sedang,tengah dan telah  melandanya.  Di sebabkan pembahasan terkait SDA/SDM telah di ulas  oleh Ustad Zaitun secara ringkas, padat dan jelas, maka saya mendudukan diskusi itu pada narasi pertanyaan diri. Apakah sebenarnya problem utama apa yang di hadapi negeri saat ini?  Di tengah potensi SDA/SDM yang begitu melimpah ruah, tapi Mengapa tumpukan permasalahan baik mulai kekacauan, demonstrasi yang tak berujung, perang antar suku, pergolatan golongan Islam-Komunis yang tak kunjung selesai, konflik kepentingan, tafsir kekuasan, hingga  masalah  Moneter yang bertumpu pada Defisit Anggaran dan Utang selalu menghampiri? Ada apa dengan negeri ini?

Saya kemudian menjelaskannya pada tiga item permasalahan.
1.Kunci utama Dasar Negara Indonesia yakni Pancasila terkhusus pada Ketuhanan Yang Maha Esa, Pasal 29 Ayat 1. Akan tetapi sejak Orde Lama-Reformasi kita masih belum memiliki Tafsir Haluan Baku  Pancasila/Ketuhanan yang menjadi pedoman utuh berbangsa dan bernegara.

2. Tidak teraturnya sistem ketatanegaraan/ketatapemerintahan Indonesia  yang saat ini berlangsung bahkan semenjak Orde Lama.
Contohnya:
a.Posisi Kepala Negara saat Orde Lama berlangsung  masih mengalami Kekosongan. Hal ini saya sampaikan sebab sejatinya posisi Presiden saat ini bukan Kepala Negara, akan tetapi  Kepala Pemerintahan yang terbatas pada wilayah eksekutif. Dan ada perbedaan yang sangat jauh antara pengertian Negara juga Pemerintahan sehingga makna Kepala Negara dan Pemerintahan pun akan berbeda.

b.Turunnya marwah MPR sebagai lembaga tertinggi dengan porsi anggota merupakan utusan golongan , bangsa, dan aliran kepercayaaan menjadi lembaga tinggi negara yang hanya terisi oleh perwakilan partai.  Sehingga pada prosesnya  MPR yang harusnya  wajib diisi melalui amanah musyawarah secara bijak dan hikmah kini ikut dalam  pergolatan politik bernama Pemilihan Umum.  MPR yang seyugiyanya adalah  Forum Permusyawaratan Rakyat, menjadi Forum Pemvotingan Rakyat. Alhasil  kondisi ini berefek pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang seharusnya di pilih oleh segenap Rakyat Indonesia melalui Musyawarah MPR sesuai amanah Pancasila sila ke-4 yakni Musyawarah Mufakat atau Syuro dalam bahasa Islam, kini  berubah 180 derajat menjadi arena adu ayam jalanan.

3. Pengelolaan Sistem Moneter  Negara oleh BI yang menyalahi konsep dan amanah  UUD 1945. Saya dengan tegas juga berani mengatakan bahwa Sistem BI adalah musuh dalam selimut yang menjadikan uang sebagai alat utang/pinjam bukan alat tukar tau pengukur nilai/harga saja sehingga menghasilkan pada Riba/Bunga pada Uang. Hal terjadi sebab BI sejatinya bukan Bank Asli Indonesia, dia adalah Bank Belanda yang kemudian dinasionalisasi pada proses perjalanannya di sejarah bangsa. Dan inilah faktor utama pemicu defisitnya anggaran APBN setiap tahunnya, munculnya utang,  kekacauan negeri, terpecahnya kedua belah kubu, hingga lahirlah UU Cipta Kerja atau Omnibus Law. Tapi keadaan Sistem BI ini masih enggan untuk di bahas, dikaji dan didiskusikan lebih detail bahkan oleh MUI itu sendiri.

Dari tiga pernyaatan di atas, beliau  merespon dua hal terkait:
1. Tafsir Ketuhanan/Pancasila yang beliau katakan telah ada pada butir” Pancasila serta merujuk dari pandangan Islam yakni Piagam Jakarta atau Dekrit Presiden 5 Juli. Beliau pun menyampaikan bahwa wujud tafsir ini telah hadir ditengah-tengah kita berupa UU Pernikahan, UU Pengelolaan Zakat dan lainnya yang bernuansa Islam. Untuk itu beliau berharap agar yang berperan dalam parlemen adalah kader-kader dakwah yang memperjuangkan nilai-nilai Islami  dalam setiap perundangan yang ada di Negeri Indonesia tercinta  ini.

2. Sistem Moneter yang dikelola oleh BI yang beliau sejatinya menyadari itu, akan tetapi masih belum di kupas terlau jauh tentang Sistem BI ini.

Itulah sekilas tanggapan yang beliau sempat utarakan pada pernyataan saya di diskusi via zoom itu. Di sebabkan karena tidak adanya feedback langsung  yang diberikan oleh panitia karena keterbatasan waktu yang ada, maka saya kemudian memberikan pernyataan balik pada jawaban yang disampaikan via chat grup.  Adapun tanggapan balik saya yakni:
1. Tafsir yg di maksud  oleh Ustad Zaitun itu adalah  Tafsir dari Sisi Golongan Islam saja,  dengan berpatokan pada Piagam Jakarta atau Dekrit Presiden 5 Juli, bukan Tafsir menyeluruh yang mengikat serta melindungi segenap masyarakat  bangsa /ras/kepercayaan/atheis/non theis  di Indoensia. Jika demikian yang ustad maksud maka berarti  agama/kepercayaan/ras tau kelompok lainnya pun bisa menafsirkan secara berbeda. Jadi Tafsir Pancasila/Ketuhanan yang dimaksud Ustad sudah ada itulah  Tafsir  Penguasa. Siapa yg kemudian berkuasa maka  tergantung  penguasa mau menafsirkan seperti apa. Sehingga ketika Pancasila pada waktunya  di setir/tafsir ke arah Sekuler/Kapitalis/Liberalis/Komunis/ menjadi hal wajar  karena Tafsir Baku/Ketuhanannya masih mengalami Kekosongan. Itulah mengapa sejak Orde Lama-Reformssi saat ini selalu mengalami perubahan sesuai keinginan Penguasa.

2. Sistem Moneter Indonesia yang berada di tangan BI, tidak bisa diganggu gugat oleh lembaga apapun di luar BI tad. Meski para pejuang dakwah Islam telah masuk di Pemerintahan serta ingin menggeser posisi BI, hal itu tidak bisa dilakukan tad. Hal ini dikarenakan adanya hukum yang telah mengikat itu. Bisa kita check bersama  pada UU RI No.17 Tahun 2003 pasal 6 ayat 2 point d serta Tap MPR RI No.XVI Tahun 1998  Pasal 9 hak moneter berada ditangan BI dan lembaga diluar BI termasuk pemerintah tidak boleh ikut campur atas hak tersebut.

Sepintas mungkin kita berpikir bahwa UU No 17 di atas  memang mampu di ubah lewat DPR, akan tetapi bagaimana dengan Tap MPR RI tersebut?
Sebab Tap MPR RI ini hadir saat MPR masih menjadi lembaga tertinggi Negara sedangkan MPR saat ini pada pembahasan sebelumnya  telah turun marwahnya menjadi lembaga tinggi negara.

Itulah yang juga menjadi pesan Al-Marhum BJ HABIBIE dalam wawancara terakhirnya di TV-One Berjudul “Sedang Viral!! Statement Terakhir Alm.BJ Habibie di Indonesia Lawyers Club(ILC)” menit ke 3:21-4:50 yang  mengingatkan kita tentang Sistem BI ini.
Sebagai penutup dari feedback saya tersebut, maka satu-satunya solusi yang ditawarkan adalah Rembuk Ulang Negara melalui Forum Resmi Kenegaraan yakni Sidang Istimewa (SI-MPR RI).

Diskusi hangat via zoom yang cukup panjang dan hangat ini akhirnya membawa kita di ujung waktu perpisahan. Meski bagi saya pribadi masih banyak hal yang perlu didiskusikan bersama Ustad Zaitun Rasmin. Sebab saya berpendapat bahwa Ustad Zaitun pun masih berada  dalam proses Pencarian terkait  Sistem Pancasila/Sistem Pemerintahan juga Sistem  Moneter yang ideal bagi segenap bangsa agar pelaksanaan pemerintahan dan negara NKRI dapat berjalan dengan baik. Sehingga tercapai amanah dan cita-cita yang diinginkan oleh Pancasila/UUD dan pendiri bangsa/ negeri.  Hal ini terlihat pada pernyataan-pernyaatan juga feedback saya yang sepintas menurut saya  belum utuh serta sempurna ditanggapi oleh beliau. Jawaban yang diberikan terlihat menyisahkan  celah  untuk membuka diskusi lebih panjang dan mendalam.
Tak terkecuali saya pun sempat teringat pada video beliau yang pernah mengatkan pendapat dengan nada pertanyaan “Seperti Apakah Sistem Ekonomi Pancasila” itu?

Berharap tiga pernyataan yang mewakili masalah negeri ini sepaket solusi yang di tawarkan  mampu menjadi bahasan beliau lebih lanjut baik itu di internal Majelis Ulama (MUI), Wahdah Islamiyah atau pada di diskusi-diskusi yang beliau pimpin juga hadiri bersama para petinggi negeri. Diakhir sesi beliau  berpesan agar kajian dan diksusi seperti ini harus sering di adakan untuk menjalin silaturahmi, menambah wawasan dan pengetahuan, serta memperat ukhuwah/persatuan sesama generasi penerus negeri.

Semoga diskusi kami via zoom ini dapat membuka cakrawala berpikir terkait permasalahan negeri, menambah wawasan juga pengetahuan bersama agar kita  dalam berperan menjaga NKRI bisa jelas dalam melangkah,  tepat untuk berjuang dan absolut pada solusi.

Jangan lupa nonton video diksusi kami :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X