Sab. Jan 17th, 2026

Genderang perang mulai berlabuh. Terompet ketidakpastian yang diumbar sedang digaungkan. Suara lantang terompet begitu bergema menusuk ke telinga pendengar, tak kalah saing dengan terompet sangkakala milik sang Malaikat Israfil. Menandakan kesamaan maksud di mana kiamat akan segera mampir dan singgah sejenak untuk bertanya kesiapan kita menyambutnya. Entah itu penuh kesenangan atau kesedihan.

Di banding terompet milik sang malaikat dengan suara menggelegar tentunya ada yang lebih nyata berbahaya. Rauman kendaraan arak-arakan para calon di tengah wabah corona yang kini sedang melanda begitu mengguncang bumi pertiwi, tempatku di lahirkan. Bunyinya begitu  kuat, keras, dan menusuk telinga. Dari pelosok barat hingga timur tak enggan untuk sedikit berhenti sejenak, bahkan semakin menguat dan menjadi. Bersamaan dengan nyanyian kegembiraan  yang dilantunkan serta janji politik kosong yang tak jelas kepastiannya. Janji yang hanya menjadi gula-gula pongke bagi rakyat yang sadar akan ucapan-ucapan itu cuman bualan semu belaka. Janji yang sekedar singgah sesaat di telinga dan pada waktu menjelang  mereka pura-pura lupa dengan apa yang pernah lantang di sorakkan. Janji yang juga berisikan harapan nasib rakyat itu laiknya gadis malam yang diperjual belikan. Siapa yang mempunyai daya kuat untuk menawar dan membeli dialah yang mampu menikmatinya.

Pemuda Muna zaman now memberikan sematan janji tanpa kepastian itu adalah perbuatan menghambur air mulut yang kita kenal sebagai PHP atau Pemberi Harapan Palsu. Trend bahasa itu kita mengenalnya di kumpulan kawula Muda Muna dengan sindiran “Kabur Water”. Anehnya kita sebagai rakyat terbuai melayang bak terhipnotis dengan bisikan halus janji mereka. Hingga kita terdiam, melongo, melotot dan mengiyakan teriakan itu di telinga yang tersampikan oleh bibir manis kita.  Pada ujung waktunya kita tersadarkan dan spontan untuk berkata “Oh Tipu-Tipu Palee  Dulu”.

Iring-iringan pawai beribut tersebut sontak membangunkan tidurku yang pulas dari mimpi indahku di siang hari. Lalu tubuhku bergerak cepat menuju riuh segarnya air untuk bercuci muka sembari berlari kencang ingin melihat bedebah politik mana lagi yang memberi janji manisnya pada sikap polosnya rakyat. Dan ternyata mereka lagi, para wajah lama tak terkecuali wajah baru dengan kendaraan politiknya yang ingin bermain judi dengan keadaan nasib daerahku juga masyarakat Kabupaten Muna. Tegap berdiri diimbangi dengan lantang bersuara mengampanyekan mimpi kosong tanpa jaminan. Itulah yang ku liat tepat dihadapanku.  Berkeinginan untuk mengabdi, mengayomi dan memberikan pelayanan terbaik bagi daerah dengan senyum manis, ramah tamah dan sikap merakyat sembari menebar tangan salam pada siapa saja yang menyambutnya. Tapi ternyata hal tersebut seperti mimpiku disiang bolong. Kekuasaan, kekayaan, dan ketenaran di kala rakyat semakin menderita itulah bukti nyata kasat mataku yang ingin mereka raih. Entah siapa sebenarnya  yang menjadi raja dan pelayan raja. Entah siapa yang seharusnya menjadi sejahtera dan menderita. Dunia ini telah terbalik, seakan menandakan perahu akan segera sandar di pelabuhan terakhirnya.

Tak hanya itu tentunya, bagi saya pribadi celotehan remeh temeh mereka sudah tak perlu lagi untuk di dengarkan. Bagiamana tidak, di tengah kondisi virus corona yang masih merajalela menjajah negeri ini termasuk daerah Kabupaten Muna di saat itu pula riuh ramai kendaraan berentetan tak sanggup terelakkan. Sungguh kondisi yang miris berbalut sedih untuk diliat apalagi ditiru. Sedihnya, santer terdengar kabar bahwa salah satu warga Muna menyumbang catatan merah terkait data orang meninggal dunia akibat penyebaran virus corona di Sulawesi Tenggara terkhusus daerah, tapi mereka tetap saja tidak mengindahkannya.
Di manakah sikap simpati juga empati kita pada warga Muna tersebut?
Pantaskah kita sebagai intelek Muna yang beradat melayati keadaan itu dengan sorak-sorai bekerumun? Hilangkah akal dan rasa sehat kita sebagai Mieno Wuna?
Entalah, mungkin jasad kita  saja yang seakan hidup tapi lainnya telah mati terkubur janji.

Semestinya kita bersyukur bahwa Kabupaten Muna masih masuk pada zona kuning, keadaan telah new normal dan data berita  kesimpangsiuran terkait penyebaran juga konspirasi  virus corona yang di bahas oleh beberapa pakar telah mengubah cara berpikir kita. Namun, bukan berarti protokol kesehatan yang telah ditetapkan tidak dipatuhi atau bahkan dilanggar. Terlebih lagi hal ini disampaikan oleh mereka para pakar dan garda terdepan pejuang virus corona. Bahkan di tegaskan petinggi daerah atau orang terhormat yang tengah mencalonkan dirinya ini.  Namun protokol itu  masih saja tidak terpedulikan oleh mereka sendiri. Seakan dari gestur tubuhnya ingin berkata bahwa “Corona itu Bohong-Bohong Kune”. Nafsu apa yang menggerogoti tubuh dan pikiran mereka yang katanya adalah “Orang Hebatnya Muna” tersebut. Mereka yang memberikan nasihat untuk mematuhi protokol kesehatan, mereka pula yang menyontohkan bagaimana cara melanggarnya.

Realitas ini tentunya sekilas sedikit menggambarkan terkait pribadi para calon yang tidak konsisten terhadap apa yang sudah diucapkan. Tidak turut patuh pula pada aturan yang telah ditetapkan. Para pakar yang menyampaikan protokol kesehatan untuk tetap menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker dengan kapasitasnya tersebut masih saja tidak dihargai keputusannya. Tak ayal kita masyarakat biasa yang hanya mampu duduk menunggu putusan dan uluran tangan. Apalagi mempunyai  tangan panjang untuk menyentuh tubuh penguasa.  Bisa kita bayangkan sembari menganalisa kemungkian apa yang terjadi jika sosok pemimpin wite barakati ini ke depan menyifati demikian.
Pada kondisinya, kita boleh memiliki penilaian yang berbeda apakah layak atau tidak layak menjadi contoh pemimpin yang baik di masyakarat dari fakta tersebut . Tapi bagi saya pribadi penilaian dari perilaku sekecil ini saja masih mudah  untuk dilakukan dengan tidak jujur apalagi masalah kedepan yang dihadapi lebih besar.
Karenanya “Stop Tipu-Tipu Kune”.

Ketidakpatuhan yang dilakukan tentunya tidak hanya terjadi pada mereka para calon, akan tetapi juga turut menggeret tim inti pemenangan termasuk follower sejati yang sempat mengiringi arak-arakan. Kendaraan dan manusia yang mepet berdempet-dempetan adalah sebuah pemandangan yang tidak elok untuk terjadi di daerahku itu.
Bahkan  protokol jaga jarak yang terus di promosikan hanya menjadi angin lalu belaka. “Virus corona tidak adami kune, jadi kita santai mi saja”, mungkin pesan ini yang ingin mereka sampaikan.
Mencoba mempertontonkan banyaknya masa yang dimiliki, dengan kemudian mengatakan bahwa “Liat mi, siapa yang lebih didukung dan dicintai rakyat”.
Jika dengan menurunkan jumlah masa yang banyak pada kondisi corona saat ini merupakan salah satu maksud yang dituju agar bisa dipertunjukkan hingga direpost di media sosial, saya cuman berkata “Sungguh rendah sekali cara bobrok seperti itu”.

Terlihat tanpa ada persiapan juga breafing yang matang untuk dapat memamerkan janji-janji yang ingin di paparkan. Sehingga segala aturan kesehatan di tengah pandemi tak terpedulikan. Padahal seharusnya protokol tersebut tetap harus  dipatuhi demi mencegah penyebaran yang lebih banyak. Tapi ya sudahlah, mungkin karena semangat terlalu menggebu-gebu, tidak ingin kalah serta sudah merasa mencapai klimaksnya untuk dihempaskan maka tidak mengapa sesekali dilanggar.

Kondisi serupa tak kalah saing untuk menjadi pergolatan hangat di dunia maya saat ini. Di mana pada keadaan lapangan yang dihadapi adalah “Virus Corona” yang tidak terlihat itu, di media sosial berkeliaran virus-virus yang lebih kejam bahkan mematikan. Virus ini pun tidak dapat terlihat jelas dan tidak mampu kita bedakan. Apakah benar dia manusia seutuhnya atau hanya boot maya semata.
Virus ini membawa dampak pada rasa sakit hati, dendam bahkan dengki. Para warganet kian heboh di bungkam dengan isi virus berupa tutur kata saling membandingkan jago-jago yang diandalkan atas pencapaian yang sudah di raih. Meski saya sedikit ragu kuantitas yang diperoleh hanya sekian persen bandingannya dengan apa yang telah dijanjikan. Ibarat dia hanya bayang semu, untuk menutup bayang nyata yang terjadi.

Pergolatan bahasa yang tidak senonoh sebagai Mieno Wuna pun adalah bagian inti dari virus ini. “Dia Mimpi Kune Itu, Urus Saja Daerah Tidak Becus, Kambuletemu Ghane, Ada yang Mulai Panikmi” dan lainnya adalah kalimat-kalimat ampuh yang mengisi tubuh sang virus. Bahkan ekstrimnya ada beberapa kalimat menohok yang sangat berbahaya hingga harus di geret prosesnya pada ranah hukum.
Karenanya virus ini pun agak sukar untuk disembuhkan mengingat keadaan hati sudah kian rusak dipenuhi busuknya kata yang mendalam.

Keadaan akan fenomena dilanggarnya protokoler virus ini  terjadi sebagai akibat ketidakbecusan pemimpin dalam mengkoordinir peran anggota sekaligus tim yang akan memenangkannya. Kurangnya pendidikan politik yang ditanamkan, dibangun dan dipahamkan dengan  matang agar dapat bertindak secara sadar dan bijak baik itu dilapangan atau media sosial menjadi bukti ketidaksiapan dalam menghadapi judi tahunan ini. Entah hanya sekedar memamerkan kemampuan berpolitik belaka atau benar-benar punya niat tulus ikhlas demi mengabdi untuk daerah. 
Jika memang menginginkan perbaikan, sudah seharusnya dilakukan dengan langkah yang baik pula. Bukan dengan cara melanggar aturan yang tersepakati serta adab bahasa sebagai Mieno Wuna yang beradat. Ketidakdewasaan berpolitik  tim adalah cerminan dari ketidakdewasaan serta ketidakmatangan berpolitik pemimpin dalam memanage masanya.
Dan bagi saya hal ini pula dapat menjadi sedikit bukti nyata bahwa tim yang menjadi ujung tombak pun masih sukar untuk di atur dengan baik apalagi masyarkat yang cukup menyebar luas di Kabupaten Muna dengan ragam sifat dan keinginannya.
Karenanya “Stop Tipu-Tipu Kune”.

Di sisi lain, narasi-narasi terkait janji yang saya sebutkan di atas tertuang dalam visi dan misi yang  dicanangkan akan dan telah tersampaikan tanpa diikuti dengan garansi atau jaminan yang di berikan. Hal ini bermaksud bahwa janji itu memiliki ketidakpastian akan mampu untuk diwujudkan atau tidak sebaliknya. Padahal masyarakat menginginkan bukti nyata adanya kepastian nasib yang di harapkan. “Aku butuh kepastian, kejelasan hubungan kita”, paling tidak seperti sepenggal kalimat dari lagu dengan judul kepastian ini menggambarkan suasana hati sesungguhnya dari rakyat.

Pentingnya sebuah garansi atas visi dan misi menjadi  tolak ukur keseriusan para calon. Keberanian dan kesatriaannya akan teruji jika jaminan ini tersanggupi oleh mereka yang beradu dalam ajang tersebut. Garansi berupa kontrak politik hitam di atas putih ini bersifat mengikat agar ada daya hukum yang dapat di pegang oleh masyarakat. Sehingga bisa menjadi bukti kuat terhadap evaluasi program para calon yang telah terpilih dan duduk di singgasana kepemimpian.
Dalam isi kontrak perjanjian itu dapat memuat terkait ide-ide pengembangan daerah,  hal-hal yang tidak boleh di lakukan, tata kelola kebutuhan masyakarat dan contoh lainnya yang di buat sesuai kesepakatan bersama antara rakyat yang mengajukan dengan calon pejuang.
Tentunya sebagai penyeimbang dari isi di atas, maka perlu adanya counter balik berupa sanksi yang akan di terima oleh kedua belah pihak. Terkhusus untuk para calon misalnya 50% gaji yang diperoleh disumbangkan untuk pengelolaan kesejahteraan rakyat, penggunaan fasilitas umum yang di kelola pemerintah daerah free biaya masuk dari rakyat, bahkan ekstrimnya adalah bersedia mundur dari jabatan yang telah diperolehnya. Kontrak politik harus dibangun atas dasar kesanggupan serta kesepakatan kedua belah pihak.

Di media sosial facebook beberapa netizen mengamini adanya kontrak politik seperti ini . Mereka pula  tak tanggung-tanggung memberikan contoh kontrak yang ingin diajukan sebagai ide perbaikan perpolitikan daerah. Ada yang menginginkan agar tidak terjadinya politik uang atau money game, tidak melakukan kampanye hitam, pengelolaan daerah harus dibangun sebagai canvas model bisnis, tidak terjadi proses potong pembangunan hingga terkesan hanya menghamburkan uang, perlu adanya kata khusus dan ampuh yang menjadi icon daerah, pengerjaan proyek pemerintah dilakukan secara terbuka, dan tawaran lain yang diberikan.
Meski terkesan pragmatis dan belum adanya peraturan hukum tertulis dalam Undang-Undang Pemilu yang mengaturnya, akan tetapi ada hukum tidak tertulis serta media yang dapat dijadikan senjata ampuh untuk mewujudkannya. Pada akhirnya proses pemilu tidak menjadi kosong, dapat terisi dengan baik serta janji yang di utarakan mampu dipegang.
Akan tetapi hingga proses berjalan, belum ada salah satu dari para calon yang memberikan garansi atau bahkan menandatangani kontrak politik hitam di atas putih sesuai yang diharapkan. Kesemuanya hanya mengumbar janji semu belaka dengan suara lantang yang seakan terlihat hebat.
Entah apa yang menjadi pertimbangan mereka sehingga belum mampu mengambil langkah nyata tersebut.

Oleh karena itu,” Wahai Para CaBup & CaWaBup, Stop Tipu-Tipu Kune”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X