Sel. Apr 16th, 2024

Keterbatasan uang, memaksa kita berada dalam pusaran persaingan dan Ketidakpastian Hidup . Dimana hal ini tidak ada dalam ajaran agama, kepercayaan dan prinsip kemanusiaan manapun. So, apakah ini benar ajaran Ketuhanan? Atau ada mahluk/orang yg mensobatase keadaan ini??

Uang kini menjadi benda yg sangat vital dalam kehidupan. Tanpa uang umumnya hidup manusia terkotang-kating tanpa arah. Dia (uang) telah menjadi latta-uzza baru yg secara tidak langsung dan tanpa sadar menjadi sesembahan utama dalam keseharian manusia. Dia mampu mengalahkan Tuhan yg sering kita puji serta ibadahi dalam ragam nama dan wujud peribadatannya. Bahkan kita yg berada di masa modern saat ini, diakui atau tidak diakui kita lahir dan dibesarkan dari sistem uang yg telah mendarah daging dalam tubuh.

Fakta hari ini kondisi uang yg kita telah nikmati berada pada status ribawi apapun pekerjaan yg kita tekuni. Dan kita boleh berbeda soal pandangan ini. Akibatnya uang yg dikelola dengan sistem ini membuatnya menjadi sangat terbatas (defisit). Keterbatasan uang berefek domino lahirnya Persaingan dan Ketidakpastian Hidup.

Persaingan memaksa manusia menjadi Homo Homini Lupus, yakni manusia yg menjadi serigala bagi manusia lainnya. Dalam artian ketika ada uang yg kita dapat berlebih pada ketersediaan yg terbatas itu maka otomatis ada orang lain yang tidak memerolehnya. Kondisi ini pula terjadi pada usaha yg kita bangun, ketika ada usaha kita yg sukses maka ada orang lain yg akan bangkrut atau paling tidak usaha orang lain menjadi berkurang penghasilannya. Berkurangnya penghasilan keuangan yg bergantung pada keuntungan ini, maka menyebabkan efek lainnya seperti PHK Karyawan, Mutasi Pegawai atau sejenisnya. Sehingga yg menjadi pembenar untuk menanggulangi keadaan ini adalah “Sedekah”. Meski bagi saya pribadi sumbangan sedekah/infaq yg selalu di gaungkan oleh para ustad ini dalam ragam jenisnya masih belum mampu menutupi keterpaksaan perilaku sistem yg telah dilakukan tersebut.

Perpanjangan tangan dari persaingan hidup timbul Ketidakpastian Hidup. Satu hal tentang ketidakpastian ini mendorong manusia dirodikan untuk berebut benda bernama “Uang”. Aktivitas kerjanya menjadi tak kenal waktu. “Bekerja Bagai Kuda” ibarat orang-orang menempatkan sanepan pada aktivitas kegiatan itu. Hingga kadang makan, kesehatan serta perhatian terhadap diri juga keluarga pun luput dari aktivitas manusiawi yg seharusnya kita lakoni.

Hal yg biasanya di lakukan untuk menangani Ketidakpastian Hidup adalah dengan mencari kerja yg pasti. Pegawai Negeri Sipil lah yg lazimnya menjadi sasaran utama para pencari sesuap nasi. Lagi-lagi untuk memeroleh status ini maka kita perlu kembali melakukan ajang persaingan dengan caranya masing-masing. Mungkin kita berpikir seperti ini, kan kita diseleksi untuk mendapatkan yg terbaik sesuai kapasitasnya.? Pernyataan ini tentu benar, namun bagi saya pribadi masih kurang dalam mengnalisa. Mengapa demikian? Sebab ketika seleksi dilakukan pasti ada yg diterima tau tidak di terima. Bagian yg tidak di terima atau tidak lulusnya mereka dalam lingkaran ini, membuat hidupnya pun menjadi tidak pasti. Hidup juga nasibnya tanpa arah juga tujuan. Hingga tak jarang ada yg stres bahkan bunuh diri menghadapi kenyataan seperti ini. Coba kalau misalnya mereka yg tidak lulus tersebut nasibnya juga di jamin oleh negara dengan status yg sama yakni pegawai negeri sipil tapi dalam model pekerjaan yg berbeda. Semisal petani, nelayan, pedagang, dan segala pekerjaan lainnya? Apa yg bisa kita bayangkan jika semua pekerjaan adalah PNS??? Tentu surga yg akan didapati bukan??

Ketidakpastian Hidup pun kadang melanda mereka yg baru menyelesaikan perkuliahan. Kuliah selama bertahun-tahun, akan tetapi setelahnya bingung mencari pekerjaan. Apalagi kualifikasi bagi Fresh Graduate kadang begitu berat semisal mereka yg tidak memiliki skill khusus. Bahkan tak jarang kita temukan, mereka yg kuliah di jurusan kesehatan atau keguruan namun setelah bekerja menjadi kuli bangunan, pekerja berat atau sejenisnya. Tidak ada korelasi antara kuliah yg dulu di tempuh, dengan pekerjaan yang di kini di jalani. Jika demikian lantas apa gunanya kemudian saya kuliah yg pada akhirnya nasib saya tidak pasti? Begitu kiranya sebagian orang berpikir pasca kuliah di tuntaskan. Meski saya juga mengakui ada beberapa diantaranya mereka yg mendapati korelasi itu sesuai dengan yg di harapkan. Namun, ketika kita membuat persentasi statistiknya manakah yg lebih mendominasi? Mungkin satu waktu hal ini perlu kita bedah atau kaji lebih jauh.

Hal lain yg kemudian dilakukan bagi para pencari pundi-pundi kehidupan adalah memperbaiki kualitas diri untuk dapat menaikkan pamor dan nama. Ujung dari cara ini pasti berkaitan dengan tingkatan posisi pada lingkungan kerja. Level posisi pada struktur organisasi kantor menunjukan seberapa besar tanggungjawab terutama “Gaji/Uang” yg diperoleh. Inilah salah satu cara yg umumnya dilakukan ketika kita tidak mampu lulus dalam lingkaran pegawai negeri sipil. Berambisi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dengan menargetkan posisi yg mampu mencapai ladang atau lumbung pundi-pundi rupiah. Dalam kondisi keterbatasan dan persaingan hidup tentu hal ini menjadi sangat wajar dilakukan. Terlebih lagi kalau kita punya tanggungan utang atau utamanya adalah ingin memberikan kebahagiaan juga ketenangan hidup bagi anak-istri, mertua juga orang tua. Karena sejatinya memang saya melihat kebahagiaan dapat terukur pada seberapa banyak “Uang” yg kita kantongi. Itulah manusia, makhluk materi dan unmateri.

Setelah dua hal di atas telah berada di atas angin, maka jalan yg ditempuh selanjutnya adalah investasi masa depan. Investasi dapat dilakukan dengan beragam model. Dan setiap orang punya cara yg berbeda untuk itu. Biasanya dengan menyicil tanah, usaha produktif, ikut dalam kerjasama bank atau sejenisnya. Tentunya Investasi dapat dilakukan bagi mereka yg mempunyai kuantitas keuangan yg besar. Mengapa hal ini dilakukan bagi mereka yg meski secara materi sudah mencukupi? Lagi-lagi jawabannya adalah pada putaran uang yg tidak menentu serta ketidapastian hidup yg tidak mampu di tebak kemana arahnya . Akhirnya setiap kita mengamankan uangnya masing-masing dalam bentuk aset berupa investasi di atas. Lantas bagaimana dengan mereka yg gaji pas-pasan atau bahkan makan sehari-hari saja masih mengaish-ngaish sampah pinggiran, memikul sebakul sayur keliling atau menjaja diri setiap harinya?? Bingung hari ini anak-istri mau makan apa saja masih susah untuk di taklukan apalagi berpikir untuk investasi masa depan??

Saya pribadi tidak terlalu tertarik untuk mengejar dua jalan itu yakni PNS dan Posisi Tertinggi dalam status kantor sebab saya menyadari dua hal yakni ” Jumlah uang yg kita peroleh saat ini berefek pada nasib atau hidup orang lain”. Saat kita menikmati banyaknya pundi-pundi rupiah yg kita koleksi, bersamaan saat itu juga disisi kehidupan lainnya ada segelintir manusia yg tidak bisa makan atau bahkan mati kelaparan. Sadar atau tidak sadar hal itu lah yg tengah terjadi dalam sistem hidup saat ini. Terlebih lagi seperti penjelasan saya di awal status setiap uang pada prosesnya adalah bersifat ribawi apapun pekerjaan yg kita ampuh. Jadi semakin banyak uang yg kita dapati maka perilaku ribawi akibat sistem uang akan semakin banyak kita lalui. So, apa yg perlu di banggakan dari semua itu??

Meski memang saya tidak munafik untuk mencoba dan menolak peluang itu ada. Tapi bukan berarti saya mengejarnya. Hanya ini membuktikan pada diri apakah memilih dua keadaan itu adalah “Sejatinya jalan hidup yg Tuhan Gariskan? Apakah itu sebuah jawaban dari “ALASTU BIRAB BIKUM QOLU BALA  SYAHIDNA” saya pada Tryas Munarsyah Kang Sejati di alam kandungan??

Dan pada proses yg sudah sedikit saya lalui hingga pada posisi sekarang memungkinkan pola pikir, prinsip dan solusi yg telah saya ketahui itulah jalan perjuangan juga dan jalan keselamatan hidup bagi saya pribadi. Sebab dalam sisa-sisa waktu hidup saya, saya tidak ingin berada dalam pusaran kesengsaraan hidup dunia wal akhirat . Sehingga saya mampu untuk benar kembali padaNya. Tanpa ada bekas dan sisa yang melekat pada dinding dunia. Meski kadang terasa berat untuk dilakukan entah itu tergoda oleh lingkaran nafsu dunia atau fasilitas yg masih kurang mendukungnya. Tapi perjuangan keselamatan hidup bagi diri tak terkecuali seluruh umat manusia harus di tuntaskan, agar benar dalam mendapati “Keabadian Surga”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X