Jum. Jun 14th, 2024

Hari ini saya pribadi melihat bahkan sedikit mengalami khususnya Ummat Islam terpenjara pada “Nama Allah, atau Sebutan Lainnya diluar agama Islam”, yg kita anggap itu sebagai “Tuhan Pencipta Alam Semesta”.

Maksudnya adalah kita menyebut bak menyembah sebutan itu sebagai Tuhan, padahal kita sendiri belum punya garansi bahwa “Allah cq Sebutan Lain yg kita lantunkan namanya itu benar-benar sesungguhnya Tuhan.

Jarang kita mendalami lebih jauh bahwa apakah benar sebutan-sebutan itu telah mewakili Tuhan yang sesungguhnya? Karena pada dasarnya “Tuhan” tidak terpenjara pada nama apapun yg dibuat oleh manusia. Tuhan telah dulu ada sebelum semua Sebutan Nama yg kita sematkan padaNya itu ada.

Secara sederhana, laiknya anak yang telah hidup dalam Alam Kandungan Ibu atau Lahir namun belum memiliki nama. Sehingga anak itu lebih dulu ada dibanding Namanya. Yang pada akhirnya manusia lewat orangtuanyalah yg memberi “Nama”. Demikian sebenarnya pada “Tuhan Pencipta Alam Semesta. Nama Allah atau sebutan lainnya adalah hasil kreasi manusia untuk mencapai derajat Tuhan.

Dan setiap Nama Tuhan yang manusia tandakan padaNya memiliki tingkat derajat rasa masing-masing sesuai capaian iman dan taqwa manusianya. Tidak ada jaminan bahwa nama “Allah” atau sebutan lainnya yang kita juga panggil hari ini sama persis dengan maksud manusia pertamanya. Itulah mengapa beberapa orang tidak meski terpenjara pada sebutan Allah. Misalnya Gus Baha yang lebih menyukai panggilan “Sang Pangeran”, di Jawa “Kawula Gusti”, dan daerah saya “Kakawasa”. Demikian pada agama di luar Islam yang memanggilNya dengan Tuhan Bapak, Sang Yang Widiwase, dan lainnya diluar konteks peribadatannya. Dalam Islam pun kita di hamparkan 99 Nama Tuhan yang dapat kita suarakan kapanpun, dan tidak meski terpenjara pada nama “Allah”. Realitas penyebutan ini kembali lagi pada derajat rasa setiap manusianya untuk mencapai Tuhan.

Dalam kajiannya pun Cak Nun/Mbah Nun menyebut nama dan fungsi Allah yg manusia buat itu bisa tidak terbatas atau bisa tidak ada sama sekali. Bahkan beliau bertanya bahwa Siapa yang berkata “Gusti Allah” adalah nama Allah itu?? Dan apakah benar nama Allah yg kita sebut dan sembah itu Allah.? Karena bagi beliau Allah itu adalah kesepakatan nama atau tanda yang tujuannya hanya sebagai konvensi komunikasi semata. Tapi tidak berarti hakikat dan kenyataannya DIA bernama Allah.
Tuhan diperkenalkan namanya oleh manusia dengan sebutan “Allah” kepada kita, untuk diri kita dan alam semesta. Tapi bukan berarti DIA benar bernama “Allah”. Hal ini pun berlaku pada agama diluar Islam dengan sebutan nama Tuhannya masing-masing.

Sebagai bukti bahwa manusia hari ini telah tepenjara bahkan terbius oleh nama “Allah” dan sebutan lainnya adalah manusia kalah dengan dirinya. Telah melaksanakan shalat, dzikir, berdoa, dan bertaubat akantetapi yang dirasakan setelahnya adalah diri menjadi hampa, stres dan bingung. Seakan tidak punya tujuan karena Tuhan semakin menjauh. Hal ini pun yang pernah saya rasakan pada perjalanan hidup saya. Telah banyak aktivitas ibadah yang saya lakukan tapi dalam hati masih merasa kosong dengan semua ibadah itu. Hingga saya mencari tau dimana sebenarnya Tuhan ? Adakah Tuhan itu?

Ekstrimnya adalah saya ingin tidur dikuburan hanya untuk mencari tau Keberadaan Tuhan. Cerita serupa dialami oleh ibu saya saat ini. Merasa diri terlalu banyak berpikir dan kosong meski setiap kegiatan ibadah sudah dilakukan. Bahkan bapak saya berkata apa fungsi shalat juga dzikir dengan sebutan Allah yang selama ini kamu laksanakan tapi kondisimu terus seperti itu, ucap bapak ke mama”. Tentu pada setiap pembaca punya perjalanan hidup yang berbeda dalam upaya mencapai Tuhan.

Wujud nyata yang dapat kita liat di lapangan dari praktek menyebut nama Allah juga sebutan lainnya adalah banyak manusia yang tunduk pada kemewahan duniawi. Kalah oleh sebuah benda bernama harta terutama “Uang”. Atas nama Allah dalam dakwah dengan janji-janji akhirat yang belum pasti dia mampu jamin, mengorbankan sisi kemanusiaan. Misal seorang yang dalam organisasi dakwah A, harus sosialisasi dakwah ke daerah B, tapi biaya perjalanan baik itu makan dan bensin tidak tersediakan. Usaha bersama atas amal sosial juga Dakwah IllaAllah pun di paparkan dengan janji pembalasan lebih besar dari Allah, namun pembagian porsi keuntungan saja tidak jelas seperti apa akadnya.
Pada posisi ini saya berpikir apakah Tuhan sekejam itu,harus mengorbankan sisi kemanusiaan?? Apakah pantas nama Tuhan kita gadaikan demi kepentingan kita semata atas nama apapun meski itu Dakwah?? Itulah dalam kajian Gus Baha yang saya simpulkan pernah berkata, jangan pernah berkata bahkan berbuat atas nama Allah, karena jangan sampai maksud Allah bukan demikian.

Disisi lain, mereka yg telah terpenjara atas nama Allah atau Sebutan Tuhan dalam ragam kapasitas dirinya baik itu Ustad Fiqih, Hafizh 30 Juz, Kiai dan Pemuka Agama serupa hingga saat ini masih belum mampu memberikan solusi keselamatan hidup di dunia. Bagiamana kemudian solusi lepas dari jeratan kemiskinan,
ketepurukan Pribadi/Keluarga akibat Harta hingga Sistem Ekonomi Tanpa Riba di Tingkat Negara yang telah menjerat manusia yang kemudian Integrasikan pada Realita hari ini. Karena jikalau benar sebutan itu telah mewakili Tuhan, harusnya keselamatan kehidupan sudah wujud memberikan jawaban dari setiap permasalahan hidup manusia baik di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi pada kenyataannya hal yang sebaliknya terjadi. Masa “Jahilliyah” telah kembali berjaya hari ini.

Olehnya itu, apakah benar nama Allah atau Sebutan Lainnya itu telah mewakili Tuhan yang sebenarnya?? Ini dapat menjadi renungan kita bersama. Namun, titik temu jawaban dari narasi ini yang menurut saya adalah solusi yang sudah wujud demi Keselamatan Umat Manusia akan saya paparkan pada tulisan berikutnya dengan judul “Kunci Penjara atas nama Allah tau Sebutan lainnya, yang Dipastikan Ketemu Tuhan”.

Sesungguhnya Aku ini Allah (Thaha:14)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X