Sebelum nama Allah tertulis dan tersepakati sebagai panggilan Tuhan Maha Pencipta bagi Umat Islam, jarang kemudian kita mencari tahu bahwa dari mana panggilan itu berasal dan tersepakati?
Dan apakah panggilan Tuhan di luar Allah itu laiknya Yesus, Sang Yang Widiwase, Dewata, Batara dan panggilan lainnya keliru dan tidak merujuk pada Tuhan yang sama yakni Tuhan Pencipta Alam Semesta?
Kita kemudian harus mendalami bahkan tabbayun pada kondisi ini, biar tidak menjustifikasi lebih baik dan sempurna bahkan meyakini agama kepercayaan diri ini lebih diterima dan yang lain tidak.
Bagi saya hal ini merupakan tindakan yang kurang bijak untuk kita lakukan selaku orang yang beragama. Terlebih lagi wilayah penentuan ini adalah Wilayah Ketuhanan. Tuhanlah yang kemudian memutuskan seperti apa Rahman dan RahimNya. Manusia hanya mampu menafsir kehendak Tuhan terkait hal tersebut.
Meski dalam ranah Islam khususnya Qur’an yang merupakan pedoman beribadah agama saya mengatakan bahwa “Inna Dinna Indaullahi Islam”.
Tapi maksud dari tafsir ayat itu bagi saya pribadi bukan merujuk pada agama/kepercayaan penyembahan tapi sistem tatanan kehidupan, yang melindungi seluruh kepercaayan ketuhanan.
Islam yang dimaksud adalah Islam Tatanan Kehidupan “Islam Rahmatan Lil Alamin”, di mana semua kepercayaan dilindungi olehnya.
Terkait dengan panggilan Allah, kita pun baiknya lebih jauh mendalami.
Dan seharusnya kita memahami sifat” Tuhan itu sendiri. Salah satunya adalah Tuhan Pencipta Alam Semesta seharusnya berada di atas semua nama. Tuhan tidak bisa dilekatkan pada nama, benda, tempat ruang dan waktu serta apapun itu, Tuhan Maha Berdiri Sendiri (Qiyamuhu Binafsihi)
Akan tetapi Tuhan dapat menjadi panggilan apapun itu sesuai dengan kesepakatan masing-masing kepercayaan selama rasa penyembahannya merujuk pada satu kesamaan yakni Tuhan Pencipta Alam Semesta.
Dalam Islam menyepakati itu Allah, Kristen ada Tuhan Bapak, Roh Kudus dan Anak, Hindu Sang Dewata, Batara dan lainnya. Di luar konteks konsepsi beragama, panggilan-panggilan itu bagi saya pribadi merupakan hal yang sah juga lumrah.
Masing-masing diri pribadi yang lebih mengetahui perjalanan cita rasa kita mendekat juga menembus nilai Ketuhanan itu.
So, kita seharusnya tidak terjebak pada nama panggilan Tuhan yang disepakati, tapi terpenting adalah bagiamana kita bisa menemukan rasa terhadap Tuhan darinya.
Sebab Tuhan sejatinya berada di atas semua nama-nama itu.
“Panggilan nama Tuhan Maha Pencipta yang bisa terhubung langsung dengan Zat Tuhan dan Rasanya adalah Nama Masing-Masing Pribadi, karena dalam Tubuh Setiap Manusia telah Melekat ZatNya (Ruh)”.




