Sejak 31 Januari yang lalu, World Health Organization (WHO) mengumumkan tentang kondisi darurat global terkait penyebaran virus corona yang terus berlangsung. Virus Corona yang telah ditemukan ada merupakan pandemik yang sedang terjadi di seluruh dunia. Hal ini tentu saja menimbulkan berbagai respon di semua negara di dunia.
Indonesia termasuk salah satu negara yang juga merespon hal ini. Belpagi hal telah dilakukan, salah satunya adalah melakukan sosialisasi pencegahan virus corona. Namun, keadaan yang semakin memburuk membutuhkan penanganan yang lebih serius. Indonesia pun mulai menerapkan anjuran untuk menghindari keramaian guna mengurangi kemungkinan penyebaran virus corona.
Kebijakan-kebijakan ini mulai masif dijalankan pemerintah, seperti sistem pembelajaran sekolah dan perkuliahan dibuat online, kantor-kantor memberlakukan Work From Home (WFH), serta imbauan untuk social distancing juga memungkinkan yakni karantina.
Sebagai warga negara yang baik, tentu saja saya pribadi turut mendukung hal tersebut.
Sayangnya, karantina diri atau tagar #dirumahsaja bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan oleh sebagian besar orang, tak terkecuali diri saya pribadi. Tinggal di rumah saja dan tidak bercengkrama dengan kerabat dan alam mungkin menyenangkan jika dilakukan sehari saja. Namun, ketika hal tersebut dilakukan selama 2 minggu bahkan lebih dari itu, tentu saja rasa bosan akan menyerang. Kadang membuat diri menjadi stress dan justru akan membawa penyakit lainnya yang masuk ke tubuh.
Untuk itu perlu adanya inovasi dan kreasi dalam mengelola serta mempuasakan diri dari nafsu-nafsu liar keduniaan itu. Tentunya banyak yang bisa kita lakukan, baik itu menambah wawasan keilmuan dengan membaca, mengaji, lebih mendekatkan diri pada keluarga terutama pada sang khalik atau hal positif lainnya yang tentunya membawa manfaat bagi diri.
Dan saya pribadi dalam mengisi kekosongan waktu sembari mencari sehat secara produktif adaalah dengan berkebun/bertani.
Berkebun merupakan hal yang menjadi penting dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan. Berkebun pula membawa kita pada proses penghayatan dan persamaan rasa terhadap para petani yang turut berjuang menyediakan hidup bagi kita. Dari sini pun saya belajar bagaimana keringat orang tua pribadi dalam ikhlas menghadirkan tambahan pokok makanan dikeluarga. Mulai dari kerasanya mendandani lahan pertanian yang awalnya rimbun penuh riuh rerumputan menjadi terbuka, cantik nan enak dipandang serta siap untuk di tanami. Setelahnya menyiapkan bibit tanaman yang siap dibudidayakan. Tak lupa dengan rasa sayang dan penuh cinta proses itu wajib dilakukan. Merawat, menjaga, dan turut membesarkannya adalah tanggungjawab yang terus dilakukan agar dia mampu tumbuh dengan subur. Setelahnya menunggu dengan sabar sekira 1-6 bulan sesuai tanaman yang ditanam hingga masa panen itu tiba.
Pada proses yang berjalan di atas hujan dan terik matahari tak mematahkan semangat mereka. Kadang rasa capek itu juga tak terpikirkan bak terasa di badan.
Diri ini kemudian berkecamuk dalam pikiran dan rasa.
Seperti inikah rasanya berkebun?
Seperti inikah lelahnya?
Seperti inikah letihnya?
Bagaimana kalau tidak subur dan gagal panen?
Apakah tidak akan menambah beban stress?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi muhasabah diri bagi saya untuk bisa lebih mensyukuri dan menghargai kehidupan. Bagaimana tidak ketika orang hanya mampu berkata, saya secara langsung sedikit merasakan tentang kerasnya kehidupan bagi mereka yang mencari penghasilan utama lewat berkebun/bertani.
Selain mendapatkan pengalaman untuk turut merasakan suka duka yang dialami oleh para petani terlebih juga orang tua saya pribadi, bertani juga mengajarkan kita untuk mampu berkomunikasi mengenal mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya.
Di mulai dengan bagiamana berinteraksi dengan tanah. Mencoba memahami apa yang dia butuhkan. Perlakuan seperti apa yang dia perlukan. Makan dan minum yang seperti apa yang cocok untuk dia.
Tak beda jauh perlakuan dengan tanah, tanaman yang kita hendak kembangbiakkan pun wajib mendapat perlakuan yang sama. Lemah lembut, tulus ikhlas dan mengerti apa yang dia perlukan sebagai sesama mahluk Tuhan yang hidup.
Di samping itu yang paling penting adalah mengajak dia berkomunikasi dan berdiskusi. Memberikan sabda Tuhan seperti “Memohon izin pada tuhan dalam diri bersambut ucap Bismillahirrahmirrahim, semoga tumbuh subur ya tanamanku sayang”, sebagai bentuk hormat kita pada mereka.
Dalam khazanah budaya masyarkat Muna, kita mengenalnya dengan ritual “Kaago-ago”. Meski beberapa mengklaim negatif tentang ritual ini, tapi bagi saya pribadi ada hal positif yang bisa kita petik yakni:
1. Nilai Religius
Nilai ini tumbuh bersamaan dengan keyakinan masyarakat tentang kandungan alam semesta. Di sini kita dituntut untuk senantiasa berakhlak mulia, tidak boleh melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehidupan beragama dan norma-norma yang dianut masyarakat secara turun-temurun seperti kita tidak boleh berbuat hal-hal yang tidak senonoh, laiknya berzina dan perbuatan lain yang dilarang agama dan kita tidak boleh mencuri dan memukul binatang apalagi membunuhnya. Apabila hal ini dilanggar maka orang atau kebun yang bersangkutan tidak akan membawa berkah.
2. Nilai Gotong Royong(Pokadulu) dan Kebersamaan
Nilai ini tampak pada saat pengolahan lahan, penananaman hingga saat panen, termasuk dalam pelaksanaan acara. Kita bersama alam dapat saling memahami dan membantu antara satu dengan yang lain dari proses awal berkebun sampai panen.
Begitulah aktivitas produktif yang saya lakukan di tengah pandemi corona yang tengah melanda negeri ini dengan segudang manfaat yang diperoleh di luar hasil panen yang kemudian akan di olah.
Banyak hal yang kemudian dapat kita lakukan sesuai kapasitas masing- masing untuk mengisi kekosongan waktu yang menghampiri.
Jadi, mari dukung satu sama lain untuk tetap #dirumahsaja dengan sesuatu yang produktif dan bermanfaat.
Saya telah memilih untuk bertani/berkebun.
Lantas sudahkah kamu menentukan pilihan aktivitas apa?
#TetapDirumahSaja




