Perkenalakan beliau adalah Bu Milawati Addo. Beliau mengajar Ilmu Sejarah di salah satu SMA termahsyur di Kabupaten Muna yakni SMA Negeri 2 Raha. Mengenal sosok guru satu ini merupakan kebanggaan tersendiri buat saya pribadi.
Hal ini karena beliau selalu menjadi tempat saya bercerita dan berbagi kisah baik tentang kondisi sekolah, pelajaran, kehidupan bahkan romantisme cinta serta jodoh saat masih menjajaki masa putih abu-abu itu hingga saat ini.Beliau seakan menjadi orang tua kedua bagi saya pribadi yang selalu merasa rindu untuk berjumpa sembari bercengkrama dengannya.
Namun dimata sebagian besar muridnya mengganggap bahwa beliau adalah sosok yang perlu diwaspadai di sekolah, karena ketegasan, penegakkan disiplin juga kelantangan suara ibu guru satu ini. Kondisi itu yang memungkinkan sebagian muridnya berpandangan bahwa bu mila adalah seorang guru yang kejam. Tapi bagi saya pribadi masa sih karena proses kasih sayang berbeda yang diberikan itu lantas berwawasan sempit demikian tentangnya?
Cara juga metode kedisiplinan yang diterapkan pada muridnya terutama saya pribadi, sudah merupakan cara yang pas dan sewajarnya dilakukan. Karena saya pribadi pun pernah mendapati hal yang sama ketika itu. Rambutnya dicukur dadakan sebab kepanjangan, perutnya dicentil karena kurang rapi dan acak-acakan serta pengalaman seru lainnya bersama beliau. Dan saya menyimpulkan bahwa sikap-sikap ibu terhadap muridnya itu adalah sebagai bentuk pemberian kasih sayang terbesar agar kita menjadi pribadi yang lebih baik, rapi juga enak dipandang dimata orang lain. Tentunya teman-teman punya pengalaman menarik nan indah bersama beliau, serta dapat mengambil manfaat dan simpulan pribadi atas apa yang beliau ajarkan juga didikkan.
Di akhir sesi tulisan ini, saya ingin bercerita bahwa beliau sangat rindu pada murid-murid lainnya agar bisa bersilaturrahmi kerumahnya. Meski saat dibangku sekolah dulu beliau pun bukan menjadi guru perwalian saya langsung, akan tetapi saya seakan menjadi anak murid emas diantara lainnya. Beliau selalu merindu agar saya bisa hadir sembari menyapa dikediaman tercintanya.
Pasca Idul Fitri kemarin akhirnya saya kembali menyambangi beliau dirumahnya. Kami bercerita banyak hal terkait perkembangan aktivitas, kondisi keluarga, dan masalah kerjaan diranah masing-masing. Tak kalah juga saya bertanya terkait eksistensi bu guru di media sosial yang sudah begitu populer gaya kekinian. Dan beliau menjawab bahwa “Kita guru-guru pun tryas tak boleh kalah sama anak-anak murid. Selain ini sebagi bentuk lain perwajahan kami agar tidak tercap kejam, dari sini juga kami bisa memantau kondisi psikologis para murid hingga dapat tau bagaimana cara menghadapi mereka dengan baik”.
Diakhir cerita-cerita hangat itu, beliau berpesan pada saya pribadi terkait perihal jodoh dan bagaimana cara mendekati wanita. “Tryas kalau mau serius sama cewek coba pelan-pelan masuk ceritanya, jangan langsung tancap gas, karena cewek itu butuh proses panjang untuk mampu mengerti pemahamanmu yang kaya itu, ucap ibu sembari melempar tawa dalam senyum”.
Itulah ceritaku bersama “Ibu Guru Millawati Addo” yang hingga kini selalu menjadi guru juga orang tua kedua terbaikku. Terimaksih buguru atas banyak hal yang telah engkau ajarkan. Semoga tetap menjadi “Bu Mila” apa adanya dan selalu memberikan ruang hidup bagi para siswanya. Teruntuk kita para murid, masihkah kemudian mengganggap buguru kejam? Jawaban itu menjadi hak kita semua untuk berpandangan bagaimana terkait beliau.




