Sab. Apr 25th, 2026

Pikiran merupakan dasar pokok manusia untuk berpijak dalam menentukan arah dan langkah kerja untuk mencapai suatu kesuksesan. Pikiran yang baik mempunyai efek pada aktivitas yang baik pula, demikian sebaliknya. Itulah mengapa kita sebagai Muslim di haruskan agar selalu berpikir juga berprasangka yg baik dalam kehidupan.

Pada perjalanannya, meski kita melakukan latihan yg rutin untuk selalu berprasangka positif pada hidup dan alam, namun tidak tertuang pada kerja terlebih lagi di counter oleh Sistem Hidup yg tidak ideal sesuai amanah Quran juga Pancasila sebagai Dasar Negara akankah kemudian akan hadir Keadilan juga Ketentraman dalam Hidup?
Akankah setiap manusia mampu menggapai kesuksesan pribadinya saat ini dan kedepannya sementara sistem tidak mendukung jalan itu?

Olehnya, tidak menjadi keliru ketika banyak orang yang kadang mengeluh atau bahkan mengutuk keras kehidupan, karena bagi saya pribadi konsep hidup tidak saja menyoal terkait “Alam Pikir”, akan tetapi wujud Pikir berupa Kerja serta Sistem yg mendukung arah hidupnya. Akibatnya tak mengherankan pula beberapa orang dengan potensi yg cerdas, pola pikir yg gemilang, kerja yg ulet tak mampu mencapai potensi tertingginya karena Sistem Tak mendukungnya. Hingga kemudian dia hanya menelan ludah, mengasingkan diri, atau memilih jalan hidup lain diluar atau bahkan lebih rendah dari kemampuannya.

Banyak hal yang bisa kita liat realita dalam kehidupan saat ini. Beberapa contoh yg bisa kita ambil dari pendalaman pertanyaan berikut :

  1. Akankah kita manusia mampu mencapai kesuksesan pribadi bahkan bersama ditengah Sistem Hidup yg penuh persaingan.? Bukankah dalam Islam/Quran bahkan Pancasila tidak pernah mengajarkan “Persaingan dalam Hidup”?

Ulasan sistem persaingan ini mengakibatkan Siapa Kuat di Menang. Siapa yg punya Previlage lebih besar di masyarakat yg mampu memenangkan arena kehidupan. Kemungkinan hanya sebagian kecil manusia yg berasal dari kalangan bawah mampu merebut puncak piala itu.

  1. Bagaimanakah manusia mencapai kesejahteraan di mana sistem hidup terbagi atas Kelas Swasta dan Negeri?
    Dari mana pembagian strata ini ada?

Pada realita yg terjadi kelas negeri laiknya PNS mampu memiliki upah hidup yg terjamin dengan bukti adanya “Gaji Pokok” sedangkan di kelas swasta/wiraswata laiknya Penjual Sayur dan lainnya tidak terjamin upahnya karena hanya bergantung pada “Untung”. Kalau untung bagus maka akan mampu bertahan hidup, tapi ketika rugi yg menimpa maka butuh effort lebih besar bahkan mendulam utang agar bisa berbalik lagi.

Padahal ketika kembali pada prinsip dasar hidup sejatinya konsep “Untung-Rugi” tidak ada dalam ajaran KeIslaman/Qurani. Pemahaman Quran menjabrakan yang ada hanya adalah kebermanfaatan manusia untuk saling mengisi kehidupan. Misal kamu bisa beri manfaat kerja berupa beras ke saya, dan saya bisa beri manfaat hasil kerja berupa ikan ke kamu.

  1. Bagaimanakah manusia mampu mencapai kejayaan ketika mereka yg dinyatakan tidak lulus dalam Seleksi Pegawai Negeri tidak mampu terjamin hidupnya oleh negara/sistem,hingga harus mencari jalan lain selain itu, memilih pasrah pada keadaan hingga bahkan mengakhiri hidupnya? Narasi-narasi pernyataan di atas adalah hanya bagian dari fenomena kehidupan yg bisa kita pelajari lebih lanjut, bahwa ada sisi lain yg perlu kita gali di luar alam pikir.

Rasulullah SAW pun memberikan contoh terkait itu, Baginda Muhammad SAW yg pasti mempunyai pola pikir yg selalu positif dan kerja yg ulet, pernah tenggelam dalam kegelisahan hidup. Baginda Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Nabi pernah mengalami satu titik di mana segala kekayaan dunia baik itu harta dan wanita sudah beliau nikmati tapi merasa kosong dalam hidup. Terbukti dengan mempunyai harta hasil gembala yg begitu melimpah Baginda Muhammad SAW ditambah wanita cantik bernama Sitti Khadijah yang dinikahinya menambah lengkap kehidupan. Akan tetapi baginda risau dengan keadaan rakyat atau manusia yg tidak seperti dirinya. Hingga kemudian memutuskan untuk menyendiri di sebuah gua di puncak gunung merenungi sembari mencari jawaban atas apa yg digelisahkan. Peristiwa ini dalam Shiroh Nabawi kita temui sebagai sebuah perjalanan Muhammad SAW mendapati Ayat Quran pertama, serta pengangkatan baginda sebagai Nabi di Gua Hira.

Kegalauan yg di alami oleh Rasulullah SAW saat itu tentunya dapat menjadi tanda tanya besar bagi kita bersama. Apakah kala itu Rasulullah SAW berpikir mengapa manusia lainnya tidak seperti dirinya lantaran hanya pola pikir mereka yg negatif atau kerja yg malas-malasan?
Atau ada hal lainnya di balik kerisauan yg beliau alami?

Dari telaah saya pribadi tentu tidak ada pikiran Muhammad SAW yg demikian. Karena akhirnya baginda Muhammad SAW mendapati bahwa di luar dua problem di atas, ada sistem yg beliau amati tidak sehat. Beliau mendapati bahwa Sistem Ekonomi Ribawilah Dalang dari semua itu. Pengelolaan keuangan berbasis Riba yang tidak sesuai amanah Quran. Sebagai akibat dari sitem itu muncullah budak/hamba sahaya sebagai garansi kredit keuangan. Dan kondisi Sistem Ekonomi Ribawi telah terulang kembali di kehidupan kita saat ini. Pada puncaknya beliau melakukan perjuangan untuk perbaikan sistem tersebut yang dalam Quran kita kenal dengan “Dinnul Islam” atau “Tatanan Keselamatan Hidup”.

Akhirnya dari sedikit uraian di atas, bagi saya pribadi tidak cukup kalau hanya mengatakan kekeliruan bahkan menggap menyesatkan bahwa roda kehidupan hanya di pengaruhi oleh Pola Pikir dan Kerja saja. Karena meski pola pikir selalu positif, kerja yg ulet, doa makbul yg selalu kita panjatkan tanpa melihat bagaimana sistem keselamatan hidup yg menopangnya, maka keinginan menuju kesuksesan, kesejahteraan, dan ketentraman sukar untuk di capai.

Liatkah Bagaimana Pemulung Mendorong Gerobaknya di tengah teriknya Matahari?
Tengokkah Bagaimana Penjual Sayur Keliling Berjalan Kaki hingga puluhan Kilometer?
So, seperti apa respon hati kita melihat itu?
Apakah kita hnya terjebak pada kesalahan “Alam Pikir dan Kerja”

#AfalaTa’Qilun #AfalaTatafaqqarun #Thinker

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X