Ming. Apr 19th, 2026

-Journey of My Life-

#MasaSMA
#Part1

Perkenalkan sebelumnya, nama saya Tryas Munarsyah. Bisa di panggil Tryas atau Tili sebagai sebutan nama rumahan saya. Saya berasal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara yang beralamat rumah di samping SMKN 2 Raha atau STM Raha dengan dua orang kaka, satu orang adik dan kedua orang tua yang hingga kini Alhamdulillah masih diberikan kehidupan oleh Sang Maha Hidup.

Semoga ke depan kami sekeluarga masih diberikan kesehatan, kesempatan serta umur yang panjang. Dan ketika hidup ini telah mencapai garis finishnya, dia akan berhenti pada waktu, tempat dan cara yang tepat. Khusnul Khatimah mencapai keabadian jannah.

Pasca perkenalan di atas, saya ingin bercerita tentang sedikit perjalanan pendidikan saya sebagai pra tulisan  terkait diri saya mulai dari SMA hingga kuliah. Sebelum menjajaki jenjang  SMA, saya selalu mengikuti jejak kedua kaka saya dalam bersekolah mulai dari SD hingga SMP. Alih-alih ingin berhenti sesekolahan dari mereka agar tidak mengekor nama dan ketenaran keduanya, akan tetapi ternyata hal itu terulang lagi di masa SMA.  Saya mengatakan demikian sebab kedua kaka saya baik yang laki-laki atau yang perempuan adalah seorang yang sangat cerdas di zamannya dalam bidang eksak yang berbeda yakni Fisika dan Matematika.

Agar perulangan di masa SD dan SMP tidak terjadi kembali, maka saya berniat agar dapat sepadan atau melampaui jejak mereka di SMA kali ini. Merefreshback kehidupan saya di sekolah menengah atas, awalnya saya dikenal sebagai seorang yang biasa saja terlebih lagi pendiam.  Tidak mudah bergaul dan juga bercerita banyak di khalayak ramai. Terlihat tidak terlalu pintar, apalgi cerdas dan cekatan dalam belajar. Hal itu terjadi karena saya merasa kurang percaya diri atas apa yang pribadi miliki. 

Munculnya sikap tersebut sebagai akibat dari kekurangan pada fisik baik itu kulit yang hitam serta wajah terlalu boros untuk di pandangi, begitu ucap beberapa orang terhadap saya. Tak hanya itu tentunya, satu hal yang sering menjadi sorotan pada diri adalah “Suara”. Suara serak-serak basah yang biasa orang menyebutnya,  berkesan tidak begitu bagus untuk di dengar, bahkan menjadi  pelik di telinga mereka yang selalu menggerutu.

Tak jarang hal itu menjadi bahan candaan tak terkecuali ejekan dengan nada mereka yang begitu menguat geram untuk saya dengarkan.
Apalagi ada yang kemudian membandingkan jauh pada saudara-saudara saya yang secara fisik lebih elegan, menawan dan elok dipandang mata. Tidak ada celah untuk melihat kekurangan yang ada pada mereka. Selain itu, kecerdasan kedua kaka  saya yang terkenal hampir seantero sekolah seperti ucapan sebelumnya, juga menjadi peluru bahasan yang sering saya tangkap di telinga sebagai bahan bandingan. Hal ini terjadi karena  keduanya adalah alumni di sekolah yang sama dengan saya kala di mana pakaian  putih abu-abu masih melekat pada raga berlogokan tutwuri handayani itu.

Bahasan terkait narasi di atas tentang diri saya, tidak hanya sekali atau dua kali terjadi. Tapi beberapa kali lontaran kata per kata  itu mendarat di telinga saya dengan kuat. Saya yang kemudian masih mengenyam bangku sekolah kelas 1 SMA kala itu hanya mampu terdiam bisu penuh marah. Pada puncaknya saya melampiaskannya dengan teriak tak terkendali, seperti orang yang kehilangan kesadaran.

Kekondisian terhadap kenyataan pribadi yang saya hadapi tersebut tentunya merupakan sebuah fitrah Tuhan dalam kehidupan yang saya jalani. Tidak ada kemungkinan saya menyalahkan orang lain, orang tua bahkan Tuhan sedikitpun yang telah melahirkan dan menciptakan saya. Keikhlasan dan kesyukuran dalam diri untuk menerima semua yang telah terbentuk mampu meredam amarah yang meluap-luap, memuncak dan memanas. Bahkan hal itu  dijadikan sebuah bom waktu untuk bisa merubah cara pandang mereka yang mengejek saya. Tak terkecuali sebagai sarana untuk  membuktikan bahwa saya bisa sepadan atau lebih dari mereka(kedua kaka saya).


Bukti dari itu semua adalah saya mampu berprestasi jauh mewakili sekolah hingga tingkat nasional serta memberikan kontribusi baru bagi wadah keagamaan di sekolah melalui lembaga dakwah yang coba saya dan teman-teman inisiasi.

Kisah selanjutnya..
Bersambung di Part 2..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X