Kam. Apr 30th, 2026

Hari ini di tengah virus corona yang masih melanda negeri ini, tepatnya Jum’at tanggal 10 Dzulhijjah Masehi atau  31 Juli 2020 ummat Muslim seIndonesia tak terkecuali di daerah saya Kabupaten Muna,Sulawesi Tenggara tengah melaksankan Ibadah Sholat  Idul Adha yang juga dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji”.

Di sebut demikian sebab  pada hari ini kaum muslimin yang mencapai kemampuan ekonominya sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan segala segi bidang kehidupan.

Disamping itu hari Raya Idul Adha, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berqurban yakni dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepadaNya. Dalam prosesnya pun harus sesuai dengan kriteria yang telah di tetapkan oleh syariat. Mulai dari syarat hewan, tata cara penyembelihan,hingga pembagian hasil yang semua telah teratur di dalamnya.

Lantas apa sih yang menjadi pesan penting dalam penyembelihan hewan Qurban.??

Pertanyaan ini terlontar kala saya pribadi di tanya mengapa pada kesempatan berharga itu masih belum melaksanakan salah satu ibadah yang dianjurkan sekali dalam setahun tersebut?
Padahal saya di nilai sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk menunaikannya. Di tambah lagi dalam status pribadi saat ini masih belum memberi tanggungan pada salah seorang yang  terhalalkan (Mohon doanya untuk itu ya)

Untuk menjawab keresahan atas pertanyaan saya tersebut, maka kita sejatinya harus meresapi dan mendalami perjalanan panjang kisahnya. Hal itu perlu kita lakukan agar tidak sekedar menjadi agenda ibadah yang kosong tanpa makna. Tidak ada yang menjadi pembeda dengan menyembelih hewan biasa pada aktivitas keseharian yang kemudian kita bagikan ke mereka yang menerimanya. Bahkan negatifnya tak jarang ternilai hanya sekedar ikut-ikutan dan terlihat sedikit adanya kesombongan untuk menunjukan  bahwa kita mampu dan bisa.

Agar mampu mengisi kekosongan Idul Qurban yang kadang menjadi rutinitas tahunan belaka, maka sepantasnya kita harus menilik sejarah tentang ibadah ini. Jika kita menengok sisi historis dari perayaan Idul Adha, maka pikiran kita akan teringat kisah teladan Nabi Ibrahim As. Di mana ketika itu, beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengorbankan dan menyembelih anaknya yang elok rupawan, sehat lagi cekatan, yakni Nabi Isa As dengan menggunakan tangannya sendiri.


Ketika ayah dan anak ini saling ridho, Nabi Ibrahim kembali lagi memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah bulat-bulat, sepertinya ayah telah bertawakkal. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmanNya, menyuruh menghentikan perbuatannya dan tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya itu. Allah telah meridhoi kedua ayah dan anak yang memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing/domba sebagai korban. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110.

Pengorbanan Nabi Ibrahim As yang paling besar dalam sejarah umat manusia itu membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul Kekasih Allah, yang sangat dekat dan dicintaiNya. Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail di atas, bagi kita harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang mengandung pembelajaran paling berharga dalam kehidupan yakni sebagai proses ketaqwaan dan hubungan kepedulian terhadap  sosial-masyarkat. 

Dari kedua manfaat di atas yang tak kalah penting, dan bagi saya pribadi hal ini merupakan pesan utama yang ingin disampaikan oleh Nabi Ibrahim As. Pengorbanan tersebut dilakukan adalah sebagai wujud penebusan karma perbuatan dari segala jenis hawa nafsu manusia yang membawa pada kemudharatan hidup.  Dia adalah salah satu metode penyucian jiwa/tazkiyatun nafs yang wujud dan simbolik terlihat selain ibadah puasa. Selainnya dimaksudkan untuk menebus  nafsu kebinatangan yang ada dalam diri setiap manusia dengan bercucurnya darah hewan yang kita tebus.

Ragam jenis hewan ternak  yang disembelih menggambarkan kualitas  hawa nafsu kebinatangan yang ada dalam diri setiap manusia. Domba yang menggantikan posisi Nabi Ismail menggambarkan seperti itulah 
tingkatkan terendah hawa nafsu manusia kala itu. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa pemaknaan terhadap penebusan nafsu kebintangan yg inside di setiap diri manusia menutupi pancarahan ruh ilahi yg telah bersama NAMA masing-masing, di mana ini merupakan inti dari pemahaman “Ketauhidan”. Namun, hal tersebut terkedilkan oleh keadaan yang menitikberatkan pada penyucian rejeki dan pengendalian hubungan sosial-masyarkat terutama
masalah ekonomi.

Pesan utama dari Ibadah Idul Qurban yakni sebagai proses “Penebusan Nafsu Kebinatangan” bermaksud untuk menguatkan posisi “Cahaya Tuhan dalam setiap diri manusia sebagai peningkatan kualitas, pengendalian dan pengelolaan diri. Cahaya Tuhan inilah yang membimbing setiap manusia menuju pada jalan kebaikan, kebajikan dan kebermanfaatan yang wujud pada “Ahlaqkul Karimah atau Ahlak yang Terpuji” laiknya tidak mudah marah, tidak mudah menuduh orang lain, selalu husnuzon, zuhud dunia, serta perilaku lainnya.

Dalam Islam kedudukan akhlaq sangat penting yang merupakan “buah” dari pohon Islam berakarkan akidah dan berdaun syari”ah juga ibadah. Segala aktivitas manusia tidak terlepas dari sikap yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia. Sebaliknya, akhlak tercela dipastikan berasal dari orang yang bermasalah dalam keimanan merupakan manisfestasi dari sifat-sifat kebinatangan tak terkecuali adalah iblis.

Olehnya itu sebelum melaksanan sesuatu tak terkecuali turut andil dalam pelaksanaan ibadah Qubran maka baiknya kita terlebih dulu memahami dan menghayati apa yang coba niatkan atau lakukan. Dan bagi saya pesan utama dalam penyembelian Qurban ini adalah agar kita mampu menata hawa nafsu dan laku serta menghadirkan cahaya Tuhan dalam setiap aktivitas keseharian kita,sehingga tercipta kebaikan dan kebermanfaatan bagi kehidupan.

: أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ
Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya (Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush-Shaghîr, No 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash-Shâhihah, No. 1496).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X