Jum. Jun 14th, 2024

Dalam Khazanah Masyarakat Muna disetiap proses Haroa/Baca-Baca atau sejenisnya ketika kita meminta pertolongan doa bagi pribadi ataupun keluarga kepada tetuah di Muna, selalu saja di mintai “Nama” yang ingin di doakan. Begitu pula dalam proses Zakat Fitrah yang selama ini ku temui di lingkungan area masjidku. Sebab saat itu saya pun sering menjadi bagian dari proses penerimaan zakat fitrah yang di lakukan.

Saya kemudian mencari tau apa maksud dari meminta “Nama” ini. Tak ayal, hal ini saya diskusikan bersama kedua orang tua saat mengunjungi mereka selepas perayaan Hari Idul Fitri beberapa bulan silam. Bercerita dan bertanya terkait hal ini. Mengapa dalam mendoakan selalu ada “Nama” pribadi yg di minta?

Mengapa tidak di doakan begitu saja?
Apa yang menjadi pembeda  maksud di balik penyebutan Nama itu?
Apakah Tuhan kemudian tidak tau siapa yg di doakan tanpa menyebut “Nama”?
Bukankah Tuhan Maha Kuasa yang mengetahui segala hal yg terjadi pada Hamba-Nya meski tak menyebutkan “Namanya”?

Begitu pertanyan yg saya tambahi pada bapak. Sontak bapak menjawab “Ya, Supaya tidak tertukar kepada siapa doa itu di tujukan dan bisa langsung sampai pada orang yg dituju”. Bapak pun kembali berkata ” Alangkah baiknya, ya dipakai sama “Binnya, tau Anak Dari” agar lebih mantap juga berkah”. Perkataan bapak ini pula di amini oleh mama saat itu.

Saya pun sergap gempita menjawab, “Saya percaya dan mengamini itu juga”.Saya menyambung penjelasan bapak secara sedikit terperinci bahwa maksud dari menyebut “Nama” itu sebab dia adalah pasword kehidupan yg langsung sambung pada Nama Tuhan Pencipta Alam Semesta. Tanpa adanya nama, kita tidak bisa membedakan mana anaknya si-A dan si-B. Tanpa adanya nama kita tidak mungkin akan bisa di kenali orang lain, kuliah, bahkan saling  berinteraksi satu sama lain. Begitulah pentingnya nama dalam kehidupan kita. Bahkan kita diharuskan memberikan nama-nama yang baik pada setiap anak yang di lahirkan.

Mengapa demikian?

Pada perspektif Islam saya menjelaskan rinci bahwa itu punya kaitan dengan komponen utama penyusun manusia. Dalam Islam   dari Pendalaman Quran yang saya yakini, ada tiga penyusun utama manusia yakni:
1. Jasad dari Air Mani/Sari Pati Tanah
QS Faathir: 11, QS Al-Furqan: 54, QS Thaaha: 55, QS Al-Mursalat: 20, Al-Mu’minun Ayat 12-13, Al-Insan Ayat 2, Surah Al-Alaq Ayat 1-2 dan beberapa ayat lainnya.

2. Nafsu/Jiwa
Bahasa Qurannya tertulis Nafsul yg kita artikan Jiwa. Dan kita mengartikan hal ini sebagai Nafsu/Hawa Nafsu. Dia pemicu lahirnya nafsu makan, nafsu minum, syahwat, tidur dan lainnya.
QS. Al-Fajr ayat 27-30, QS.Syams Ayat 7-10, QS.Az – Zumar:42, Al-Maidah : 45, QS: Yusuf  12:53 dan beberapa ayat lainnya.

3.Ruh (Bukan Jiwa sebab tulisan Arabnya sudah Berbeda).
QS. As-Sajdah: 9, QS Al-Hijr:29, QS. Ash-Shad:72, QS. At-Tahrim: 12, QS. Al-Anbiya  dan beberapa ayat lainnya.
Jika kita merujuk versi arabnya maka akan menemukan kata  “Ruhi” yg di artikan  Ruh bukan Jiwa.

Saya memahami bahwa proses pembentukan jasad-nafsu/jiwa itu satu paket karena nafsu/jiwa bersumber dari nafsu/jiwa orang tuanya yang di pengaruhi oleh makanan/minuman serta perilakunya.  Dia melalui perjalan perantaraan manusia (hubungan suami-istri) dari  perantara utama  berupa Sari Pati Tanah (Makanan/Minuman).   Dalam perspektif bahasanya kita akan menemukan dalam  Quran  untuk  pemrosesan pembentukan Jasad sepaket Nafsu/Jiwa yakni dengan bahasa “Penciptaan” (QS Faathir: 11, QS Al-Furqan: 54, QS Thaaha: 55, QS Al-Mursalat: 20, Al-Mu’minun Ayat 12-13, Al-Insan Ayat 2, Surah Al-Alaq Ayat 1-2). Sedangkan Ruh berbeda sendiri, Ruh langsung dari Tuhan yg bahasa Qurannya Ditiupkan (QS. Al-Hijr: 29, QS. Al-Anbiya’: 91,QS. As-Sajdah: 9, QS. Shad: 72 ) bukan diciptakan laiknya jasad melalui perantaraan manusia yang kemudian ini disambungkan pada “Nama Kita” masing-masing.

Karena kita tidak bisa menjamin bahwa benarkah Allah yg sering kita sembah dan sebut dalam setiap Shalat & Aktivitas kita adalah Allah yg dimaksud sebagai Tuhan Pencipta Alam Semesta sebagaimana maksud Rasulullah Muhammad SAW?
Bagaimana kita bisa yakin dengan itu?
Bagaimana cara memastikan itu hingga tingkatan karsa dan rasa bahwa DIA lah benar Tuhan?

Atau mungkin itu telah bertranformasi menjadi ghaib lainnya, yang seakan diyakini oleh seluruh ummat manusia bahwa itulah Tuhan sebenarnya?

Keyakinan tentu ada pada kedaulatan pribadi. Tapi terkhsus untuk saya, meyakini bahwa ‘Ruh” dari penjabaran singkat di atas merupakan Percikan Cahaya Tuhan yg langsung di berikan kepada manusia dengan sifat  yang sangat Suci dan Menyucikan atas  penjelasan Ustad Adi Hidayat  yang saya pahami pada Tafsir QS. Syams 7-10. Pengkajian mendalam atas praktek tetuah di Muna serta telaah saya atas ayat-ayat di dalam Quran, maka yang dapat memastikan dan menghubungkan  kedekatan kita dengan Tuhan Pencipta Alam Semesta (Tuhan lebih Dekat dari Urat Leher)  sebelum sebutan/nama Tuhan itu adalah  “Nama Setiap Manusia”dengan ragam agama dan kepercayaannya.

Nama yg diberikan oleh orang tua yg melahirkan kita dengan segala pertimbangan dan kebaikan rasanya tentunya bukan hanya nama jasad saja. Akan tetapi dia melekat nama nafsu/jiwa terutama nama “Ruh” yang merupakan Percikan Cahaya Tuhan (Tuhan itu sendiri). Dia telah ada, bersemanyam dan menemani di dalam setiap diri manusia. Ruh adalah Zat Tuhan yg satu-satunya hidup dalam diri manusia sebagai penyempurna penciptaan. Di mana makhluk hidup selain manusia tidak memiliki namanya Ruh (tdk ditemukan dalam penjelasan Quran).
Meski begitu manusia bukan Tuhan, sebab kita (manusia) masih ada unsur lain yg dimiliki yakni Jasad/Nafsu yg perlu makan, minum, tidur, bekerja, dan beraktivitas nafsu lainnya.

Namun, Dia (Ruh) yang kemudian  menjadi pembimbing langkah nafsu/jiwa kebaikan manusia/intuisi positif. Kebaikan nafsu/jiwa (Sifat Taqwa) manusia yang  terkontrol oleh namanya Ruh membuahkan hasil pada  manusia  menjadi  “Insan Kamil”.Insan Kamil atau manusia yang sempurna adalah manusia yang berkarakter dan bersifat baik. Menurut Tafsir Al-Misbah pada  Surat at-Tin Ayat 4 dijelaskan bahwa makna Insan kamil berarti manusia yang suka beramal shaleh, bermanfaat bagi orang lain, sabar, dan menjadi pribadi pemaaf. Manusia yang dapat selalu menjaga dan mengaplikasikan kebaikan/kebajikan di masyarakat.

Dalam bahasa umum di kalangan Masyarkat Muna, Insan Kamil di namai Mie KoAdhati atau Orang yg Beradat. Manusia yang selalu memiliki sifat tutur kata-tingkah laku yg baik, jujur, rendah hati, tidak merugikan orang lain, menghargai orang lain hingga puncak tertingginya punya manfaat untuk orang lain.  

Begitu tinggi pendalaman makna dari “Nama” ini. Olehnya, sebut dan ajaklah DIA (Nama Ruh) selalu bersama kita. Biar DIA selalu membimbing langkah kita dalam setiap apapun aktivitas yang dilakukan. Panggilah DIA (Nama Ruh/Nama Kita) dengan panggilan yang selembut-lembutnya biar dominasi “Nafsu/Jiwa” luruh dan terbimbing oleh “Ruh” . Yaa Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah, Wahai jiwa/Nafsu yang tenang”( Nasfu/jiwa yang di pandu oleh “Ruh” (QS. Al-Fajr :27).

Silahkan Mas Tryas Kang Sejati (Ruh) Ayo Makan/Aktivitas Lainnya. Dalam bahasa Muna yakni  Tabea Tryas Munarsyah Kang Sejati (Ruh) Ayo Makan/Aktivitas Lainnya, Bismillah (Doa) . Atau setelah melakukan sholat/ proses persembahnyangan apapun pada Tuhan yang dapat diawali dengan Al-Fatihah untuk diri sendiri  “ILA SUKMO KHUSUSON JASADI RUH INGSUN IBU / BAPAK (Tryas Munarsyah Bin Alimin) KANG SEJATI LAHUM AL-FATIHAH (Masih Hidup Hidup). Dan selanjutnya kepada  ayah-ibu, kakek-buyut, para tetuah di Muna tau pejuang daerah tempat kita di lahirkan, para sahabat nabi, para malaikat, alam, Orang-Orang Shaleh pewaris Nabi, Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi, ILA SUKMO KHUSUSON ILA RUH INGSUN IBU / BAPAK (Nama) KANG SEJATI LAHUM AL-FATIHAH (Telah Meninggal).

Dan akhirnya ditutup dengan doa keberkahakn rizky, keselamatan dan panjatan doa lainnya sesuai hajat masing-masing. Ini mungkin bagian hal yg bisa kita amalkan jika menyepakati penjelasan yang dimaksud. Jika tidak, maka putusan kembali menjadi pilihan pribadi.

Sekilas diskusi saya terkait pendalaman maksud Tetuah di Muna yang selalu meminta dan menyebut “Nama” kita dalam setiap doa yg ingin di panjatkan. Pada akhir cerita mama/bapak menyarakan alangkah eloknya dan bijaksannya jika hal ini bisa tanyakan serta diklarifikasi langsung pada tetuah atau Imam di Muna.  Apakah penjelasan yang di sampaikan sudah sesuai dengan maksud beliau (tetuah) atau tidak. Atau mungkin ada hal-hal yang kurang sesuai dalam penjabarannya. Semoga hal tersebut bisa menjadi masukan dan kritikan saya kedepannya dalam membangun tulisan yang lebih bernilai.

Nama Ruh yg ada dalam Setiap diri Manusia  adalah Nama yg langsung sambung pada Tuhan Pencipta Alam Semesta sebelum Nama Tuhan itu Ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X