Sab. Jan 17th, 2026

Lelah, letih dan penat menata lika-liku kehidupan.
Mengatur sedemikian rupa agar rapi.

Mengisi ruang hampa dalam diri.
Menerangi gelapnya hati dan pikir dari segala lakon manusia.

Entah apa yang mengusikku?
Entah apa yang menggoda sepi?
Padamu ku bertanya?
Dan padaku ku bertanya?

Mengapa gemuruh langit memanggil badai?
Mengapa gemilau cahaya memancar panas tak terkendali?
Dan mengapa ombak mendayu meninggi?

Ada apa bumi?
Ada apa negri?
Ada apa manusia?

Diam, membisu, dan membatu.
Melipat tangan, sembari bermimpi di siang hari.
Melempar dadu yang liar berlari kesana-kemari.

Tak ada yang membuatku damai bertemu lirih.
Hanya sebuih untuk singgah menyambangi.
Sekedar desiran angin yang mampir lalu pergi.
Hampa dalam jawaban pasti yang menggugah hati.
Merangkul semua jadi satu dalam bakti.

Sampai kapan kaki ini mencari arah hati yang damai?
Dan kemana dia (diri) akan mendapati ?
Pada riuh ramai berkalah sunyi?

Tuhan turunkan tanganMu agar suatu waktu dapat ku rangkul.
Menjadi saksi dan bukti bahwa inilah jawabMu.
Pada bobroknya negri dan alam raya kini.
Hingga dia damai menyatu dalam diri.
Dan penat tak terus menemani dalam sepi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X