Sab. Jan 17th, 2026

Alhamdulillah kesempatan ini, atas umur panjang yang di berikanNya, kami sekeluaga besar kembali berkumpul bersama untuk turut melaksanakan salah satu tradisi masyarakat Muna. Tradisi yang di maksud adalah “Haroa atau Baca-Baca”.Dikala sebagian enggan untuk melaksanakannya, bagi kami pribadi ini merupakan tradisi religius masyarakat Muna untuk berserah diri pada Sang Khalik. Budaya yang telah diperkenalkan sejak lama ini, di bawa saat Kerajaan Wuna/Muna dipimpin oleh Raja Muna yang bernama La Ode Abdul Rahman (Sangia Latugho).

Pada acara ini seorang pemuka agama memimpin dan mengawalinya dengan membaca syahadat dan istighfar, kemudian membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir masing-masing sebanyak 100 kali. Setelah itu dilanjutkan membaca doa selamat, doa tolak bala, doa kemudahan rezeki, dan doa pengampunan dosa untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Prosesi “baca-baca” diakhiri dengan menjabat tangan pemuka agama, lalu saling berjabat tangan dengan semua anggota keluarga yang hadir. Setelah itu dilanjutkan dengan makan bersama. Pada menu makanan, ada makanan yang wajib dan selalu tersedia yang merupakan makanan khas Muna seperti lapa-lapa, ayam, wajik, cucur dan sirkaya ditambah dengan jenis makanan lainnya.

Tradisi ini pasti selalu dikenang oleh masyarakat Muna khususnya para perantau. Karena dengan tradisi ini, seluruh anggota keluarga dapat berkumpul dan bercengkerama. Hal ini dirasakan penting untuk dilestarikan mengingat manfaatnya sebagai rasa syukur atas ni’mat yang diberikan serta moment saling bersilaturrahim bak memaafkan satu sama lain khususnya di lingkungan keluarga sendiri.

Begitulah sekilas tentang acara “Haroa tau Baca-Baca”, yang pasti selalu ada di setiap peringatan khsusus di daerahku Kabupaten Muna.

Semoga kedepan masih di beri umur panjang untuk dapat menikmatinya.
Amiin🙏🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X