NAMA SETIAP MANUSIA ADALAH PASWORD KEHIDUPAN YANG LANGSUNG SAMBUNG PADA NAMA SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA, ALLAH SWT”.
Dalam Khazanah Masyarakat Muna disetiap proses Haroa/Baca-Baca atau sejenisnya dalam meminta pertolongan doa bagi pribadi ataupun keluarga kepada tetuah di Muna, selalu saja di mintai “Nama” yang ingin di doakan.
Begitu pula dalam proses Zakat Fitrah yang selama ini ku temui di lingkungan area masjidku. Sebab saat itu saya pun sering menjadi bagian dari proses penerimaan zakat fitrah yang di lakukan.
Saya kemudian mencari tau apa maksud dari meminta “Nama” ini.
Tak ayal, hal ini saya diskusikan bersama kedua orang tua saat mengunjungi mereka selepas perayaan Hari Idul Fitri minggu lalu.
Bercerita dan bertanya terkait hal ini. Mengapa dalam mendoakan selalu ada “Nama” pribadi yg di minta?
Mengapa tidak di doakan begitu saja?
Apa beda dan maksudnya?
Begitu pertanyan saya pada bapak.
Sontak bapak menjawab “Ya, Supaya tidak tertukar kepada siapa doa itu di tujukan dan bisa langsung sampai pada orang yg dituju”.
Bapak pun kembali berkata ” Alangkah baiknya, ya dipakai sama “Binnya, tau Anak Dari” agar lebih mantap juga berkah”.
Perkataan bapak ini pula di amini oleh mama saat itu.
Saya pun sergap gempita menjawab, “Saya percaya dan mengamini itu juga”. Sebab dari perjalanan yang saya lalui, akhirnya saya menemukan beberapa maksud dari ucapan atau lakon yang tetuah di Muna lakukan baik itu secara pribadi atau adat istiadat Muna yang telah mengakar laiknya “Saya Tidak Sholat tapi Sholat, Kampua, Karia, Katoba serta lainnya”. Saya pun percaya bahwa ajaran yang mereka pahami juga amalkan adalah ajaran Islam itu sendiri pada tataran ilmu pengetahuan yang mereka dapati.
Ajaran yang paling utama itu adalah ajaran Tauhid pertama yakni Ma’rifatul Insan/Mengenal Diri atau Pandeha Wuto dalam bahasa Munanya. Mengerti asal muasal diri ini sperti apa, Tazkiyatun Nafs, dan wujud dari Tauhid itu berupa Ahlaq yakni menjaga perbuatan, adab bertingkah laku pada manusia ataupun alam, serta menjaga cara bicara seperti tidak berkata kasar, jelek apalagi berbohong.
Saya bercerita semua bahasan di atas bersama bapak dan mama dengan gembiranya. Lanjut dari cerita kami, saya menyambung penjelasan bapak secara sedikit terperinci bahwa maksud dari menyebut “Nama” itu sebab dia adalah pasword kehidupan. Tanpa adanya nama, kita tidak bisa membedakan mana anaknya si-A dan si-B. Dan dengan menyebut nama kita menghadirkan “Ruh Suci Tuhan” untuk membimbing kita dalam setiap langkah yang dilakukan. Ruh Suci inilah Tuhan yang ada dalam diri setiap manusia dengan namanya masing-masing.
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. Shaad, 38 :72); Sesungguhnya Aku ini adalah Allah (QS.Thaha:14).
Dalam proses penamaan bagi anak yang baru lahir pun dianjurkan untuk memilih nama yang baik-baik. Sebab nama adalah doa menurut sebagian besar orang, dengan maksud bahwa sepaket nama jasad-nafsu dalam diri manusia, juga melekat pada nama ruh ilahi itu sendiri. Nama diri inilah yang langsung sambung pada nama Tuhan sejati Pencipta Alam Semesta yakni Allah SWT dalam sebutan Islam, sebab zat suciNya berupa “Ruh” telah bersemayam dalam diri setiap manusia.
Bapak pun menerima bahkan meyakini penjelasan yang saya berikan. Bahkan beliau berkata begitu mungkin penjelasan detailnya dari maksud tetuah Muna dulu dan saat ini dalam memanjatkan doa.
Pasca diskusi filosofi seperti ini lantas mama bertanya terus bagaimana prakteknya nak kalau sendiri dalam keseharian??
Keyakinan yang sama akan hal itu sontak membuat saya gembira untuk menjawabnya.
Jadi cara sederhananya begini ma,
1. Di aktivitas keseharian kita ada baiknya Ruh Ilahi itu diikutkan untuk terlibat dengan meminta izin padanya yakni menyebut nama kita sebelum melakukan aktivitas. Misal saat sebelum makan “Silahkan Mas Tryas yang Sejati Ayo Makan, tau dalam bahasa Muna Tabea Tryas Munarsyah yang Sejati Ayo Makan, Bismillah (Doa Makan). Atau bahasa lain yang lazim kita digunakan dan bisa kita praktekan dalam keseharian baik itu sholat, minum, olahraga tau apapun aktivitas kita.
2. Setelah melakukan sholat tau proses persembahnyangan apapun pada Tuhan, baiknya kita mengirimkan Al-Fatihah untuk diri kita sendiri dulu seperti apa yang di lakukan oleh tetuah di Muna, dan selanjutnya ayah-ibu, kakek-buyut, para tetuah di Muna tau pejuang daerah tempat kita di lahirkan, para sahabat nabi, para malaikat, alam, Orang-Orang Shaleh pewaris Nabi, Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi, dan ditutup dengan doa keberkahakn rizky,keselamatan dan lainnya sesuai hajat masing-masing.
Bagi yang sudah meninggal hanya disebut Ruh nya saja tapi bagi yang masih hidup disebut dengan jasad sepakat nafsu yang ada dalam diri.
Misal ucapannya seperti ini ” Terkhusus untuk Jasad dan Ruh Tryas Munarsyah yang Sejati Lahum Al-Fatiha.
Sedangkan bagi mereka yang telah meninggal kata jasad itu di hilangkan.
Sekilas jawaban singkat saya untuk mama terkait apa yang ditanyakan. Dan saya pun berkata kepada mama bahwa untuk lebih jelasnya, seperti apa bahasa yang lebih elok, bisa di tanyakan serta klarifikasi langsung pada tetuah tau Imam di Muna terkait ini. Itupun yang disampaikan oleh mama kepada saya atas apa yang saya dapati, berharap dapat berkunjung kembali ke Masjid Muna dan bercerita pada imam di sana.
Tapi karena waktu yang mepet, akhirnya agenda itu diluangkan pada kesempatan yang lain.
Di Islam atas pemahaman yang saya temui, konsep ini sejatinya telah ada. Kita mengenal proses ini adalah bagian dari “Tawassul” yakni “Tawassul bis shalihin (tawassul dengan orang-orang shalih). Tawasul kepada orang-orang shalih, baik masih hidup atau sudah meninggal dengan meminta wasilah melalui doa. Cara yang saya yakini adalah mengirimkan Al-Fatihah yang dipanjatkan terutama pada diri sejati yakni Ruh Ilahi dengan nama masing-masing yang bisa membuat kita hidup dan menghidupkan orang lain.
Itulah diskusi hangat saya bersama bapak dan mama, sebelum saya meninggalkan kampung halaman untuk kembali mencari kehidupan di tempat saya bekerja.
Semoga dapat memberi manfaat dan ada hikmah juga pelajaran yang bisa di ambil di dalamnya, karena sejatinya “Nama Setiap Manusia adalah Pasword Kehidupan yang langsung sambung pada Nama Sang Pencipta Alam Semesta, Allah SWT”.




