Jum. Jun 14th, 2024

Sejak SMP/SMA lingkungan keIslaman saya adalah Muhammadiyah. Saya besar dan berkembang di Masjid bernuansa Muhammadiyah yakni Al-Ikhlas Muhamamdiyah Raha.

Bergelut sebagai pengelola masjid di sana telah menjadi perjalanan keagamaan saya di Muhamamdiyah. Merawat masjid dengan penuh kasih sayang, pembinaan anak-anak remaja masjid hingga menyuarkan azan adalah aktivitas saya kala itu. Meski memang suara saya yang sangat jauh dari layaknya suara adzan teman-teman lainnya, akan tetapi ada beberapa kerinduan bahkan kekaguman dengan kumandang azan yang saya bunyikan.

Tak hanya itu tentunya aktivitas lainnya laiknya belajar bahasa Arab, Khutbah dan Kajian Keagamaan oleh Ustad Mustafa Awo Mustafa Awo salah satu kader terbaik Muhamamdiyah di daerah saya tercinta Kabupaten Muna adalah pelajaran yang sangat berharga di lingkungan Muhamamdiyah. Meski dengan suara yang terdengar cempreng akan tetapi dari sanalah keberanian untuk menyuarakan kebaikan atas kapasitas diri yang dimiliki mulai terbentuk. Semangat dakwah Islam yang telah tepatri dalam diri hingga saat ini terus saya genggam dan tanam sedalam-dalamnya di hati juga pikiran.

Pasca Sekolah Menengah Atas (SMA) di tengah dinamika kuliah yg saya tempuh, akhirnya bermuara pada salah satu kampus Muhamamdiyah di Solo.
Tepatnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Di sanalah saya belajar memperdalam terkait Khazanah Kemuhammadiyahan.
Saat duduk di bangku kuliah pun awal semester saya di godok di Pesantren Internasional Muhammadiyah selama kurang lebih dua setengah tahun.
Di pesantren ini pula saya banyak belajar terkait khazanah keilmuan, fiqih, bahasa inggris, bahasa Arab juga kajian hadis yg belum saya dapati kala itu.

Tak disangka kajian tentang hadis membawa saya mengulik lebih detail perbandingan hadis, matan hadis, asbabul wurud hadist bahkan kitab rangkuman hadist ternama Fatul Bari atau lengkapnya berjudul “Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari” yang dikarang oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani menjadi bacaan sore sepintas yang tidak terlewatkan.
Arah, pola, hingga mahzab haluan Gerakan Muhammadiyah juga tak luput dari pelajaran pribadi saya.

Meski tidak langsung menjadi Kader Muhammadiyah secara struktural, akan tetapi semangat Nabi Muhammad SAW yang di emban oleh salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia ini mengajarkan saya banyak hal terkait dakwah Islam juga kebangsaan.
Terimakasih bagi mereka warga Muhammadiyah yang telah membimbing saya bertansformasi seperti saat ini. Semangat berdakwah,menebar kebaikan, dan berlomba-lomba dalam kebaikan adalah pelajaran berharga yang terus saya pegang erat hingga saat ini.

Semoga Organisasi Masyarakat bernama Muhammadiyah ini terus konsisten dalam mewujudkan cita-cita membangun Islam dan Negara sesuai petunjuk Quran dan Sunnah yang dirahmati Allah Subhanahu wata’ala. Selalu terus bergerak memberikan manfaat melalui kegiatan keagamaan secara langsung, praktik nyata di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan kesehatan sehingga tercapai kondisi negara yang Adil, Makmur dan Sejahtera.

Selamat Milad ke 109 Muhammadiyah, teruslah menebar manfaat dan mengajarkan kebajikan sesuai tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah. Teruslah bergerak dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X