“SELAMA ADA KAMU, TIDAK AKAN PERNAH ADA TAUHID”
Manusia adalah makhluk yang paling mulia sekaligus paling unik bila dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Dalam perspektif spiritualitas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang secara fitrahnya dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan jiwa yang termotori oleh nafsunya.
Ketika jiwanya suci, akan tampil perilaku suci dan sifat terpuji, tetapi ketika jiwanya keruh, akan tampil perilaku yang kotor dan sifat yang tercela.
Pada proses pencarian dan pembentukan kecenderuangan jiwa itu, kita akan menemukan bahwa akhir dan ujung perjalanan spiritual manusia sejatinya adalah “MenTauhidkan Tuhan”.
Dan point utama dari ulasan “Tauhid” itu yakni “Ma’rifatul Insan (Mengenal Diri Sejati)
“Siapa yang Mengenal Dirinya maka Dia Mengenal Tuhannya”
(Ulama Sufi)
Beberapa hal penting dari “Ma’rifatul Insan” diantarnya:
1. Asal muasal proses penciptaan manusia hingga proses masuknya Ruh Suci ke dalam diri.
2. Tujuan kita meminta hidup dan dihidupkan di kehampaan dunia yang hanya masing-masing pribadi tau soal ini.
Dan sesuatu yg menarik dari ‘Ma’rifatul Insan” adalah proses penciptaan manusia itu sendiri. Dari mana asal semua penciptaan diri.
Jika kita telaah lebih jauh maka kita akan menemukan 3 pembentuk unsur utama manusia yakni:
-Jasad : Bersumber dari sari pati tanah yg terolah dalam bentuk makanan/minuman serta butuh kontribusi manusia di dalamnya melalui hubungan Suami-Istri. Bentuk hidung, wajah,suara dan lainnya adalah perwujudan genetik dari ayah/ibu tau kakek/nenek bahkan buyut kita. Jika ada anak yg kurang mirip fisik sama ayah/ibunya bisa jadi kemudian dia serupa sama kakek/neneknya. Dalam kajian biologis hal ini di namai turunan “Fenotip”.
-Hawa Nafsu/Nafsu, sama laiknya dengan jasad, nafsu juga bersumber dari kolaborasi hubungan manusia yg diturunkan. Meski dia bersifat ghaib tapi tanpa disadari dia ada dalam diri manusia. Keinginan makan, minum, tidur, marah, sabar, dan lainnya dipengaruhi oleh adanya “Hawa Nafsu”. Dari sisi ilmu biologis kita mengenalnya dengan “Genotip”.
– Ruh.
Jika membahas soal unsur yg satu ini kadang mengundang sesuatu yg kontroversi, sebab banyak yang enggan untuk membahasnya. Karena berpendapat bahwa ini adalah wilayah ghaib yang sukar ditembus oleh olah pikir manusia.
Tapi bagi saya pribadi justru inilah yang menjadi bagian terpenting dari proses penciptaan manusia, yang kadang kita sering melupakannya. Dialah “Ruh Suci Cahya Tuhan” langsung yg di tiupkan selama kurang lebih 2 bulan di alam kandungan sang ibu. Cahaya Tuhan yg langsung dari Tuhan itu sendiri tanpa perantara dan urun tangan manusia.
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. Shaad, 38 :72).
Dialah Tuhan yang menghidupi dan membimbing setiap jiwa manusia di kala manusia telah mampu meredam amarah nafsu dirinya. Dialah pembawa sifat suci yang terus mencoba mengarahkan kita dalam berbuat kebaikan. Dialah imbangan dari nafsu ketamakan manusia yang tanpa arah. Intuisi hati untuk berbuat baik tanpa kita sadari bersumber darinya.
Dalam kajian ilmu ta’sawuf yang beberapa kali kudapati menggap bahwa “Ruh” ini sejatinya adalah ” Tuhan” itu sendiri dalam arti bukan seutuhnya Tuhan seperti Tuhan yang Maha Kuasa yg selalu kita sembah. Meski demikian Dialah satu-satunya zat yang langsung sambung pada zat utamanya yakni Tuhan yang Maha Kuasa. Dalam Islam kita menyebutnya “Allah SWT”.
Beranjak dari pendekatan rasa inilah kemudian “Syaikh Sitti Jenar” menguat prinsip tentang “Manunggaling Kawula Gusti” sejaitnya Tuhan bukan sejatinya manusia “Insan yang Kamil”. Sehingga menganggap dirinya sebagai “Tuhan” secara utuh tanpa membatasi bahwa selain itu ada unsur lain manusia yakni “Nafsu dan Jasad” . Secara tidak langsung dari konsep itu dia menafikkan keberadaan dua unsur tersebut.
Meski demikian itulah proses kehidupan yang beliau lalui. Bisa jadi kemungkian kita keliru memahami apa yang beliau yakini atau kita salah menafsir perkataan lisan, lakon hingga rasa dari beliau.
Tentunya hal ini butuh kajian dan pemahaman rasa yang mendalam.
Akan tetapi bagi diri pribadi punya beberapa dasar quran yang saya gunakan terkait itu.
Diantarnya adalah
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 186)”
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)
Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qs. Qoff : 16 )
“Langit dan bumi tidak mampu memuat-Ku, akan tetapi Aku termuat dalam diri hamba-Ku yang mukmin.” [Biharul Anwar, jilid 58, hal. 39.]
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh sifat-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. Sajadah, 32:9).
Dan dasar utama yang langsung serta sering ku gunakan adalah QS.Thaha:14 (Innani Annaullaha, Sesungguhnya Aku ini Allah/Tryas Kang Sejati).
Kita boleh sepakat tau tidak sepakat terkait pemahaman tekstual serta tafsir Quran tersebut. Tapi itulah yang saat ini ku yakini hingga menemukan sedikit rasa keberadaanNya dalam diri, yang kemudian sedikit mengubah pola pikir dan hidupku dalam memandang spritual keagamaan dan keislaman yang telah saya lalui.
Membahas terkait hakikat “Ruh” dalam diri tentunya butuh waktu yang demikian panjang untuk menemukan sejatinya rasa keberadaan Tuhan. Mungkin tulisan selanjutnya bisa menjadi penguat dan pendalaman dari pencarian saya terkait ini.
“Selama ada kamu, tidak akan pernah ada Tauhid”




