Kam. Mei 23rd, 2024

Saya pribadi dulu memandang Surga seperti apa yg tertulis tekstual di dalam Al-Quran seperti yang selama ini di bayangkan bahkan mungkin  menjadi salah  bahan dakwah oleh para Ustad.

Surga yang ditulis dalam Quran sedikit digambarkan sebagai sebuah tempat dengan sekian kenikmatan yang di peroleh. Diantaranya adalah terkait adanya sungai air susu yang terus mengalir, sungai-sungai khamar, adanya piring dan gelas emas yang bisa digunakan sepuasnya, aneka pepohonan dan buah-buahan hingga adanya bidadari, bahkan ada yang mengatakan terdapat Pesta Seks di Surga”.

Hal ini tentunya dapat kita liat pada ayat-ayat quran seperti QS.Az-Zuhkruf 71, QS.Al-Hijr 45-48, QS.Al Waqiah 25, QS.Ar-Rahman 47-50, dan beberapa ayat lainnya.

Itulah yang dulu sempat saya pahami secara tekstual ayat-ayat Quran. Setelah saya mengaji lebih lanjut dan mentaddaburi ayat ini, ternyata saya mendapati maksud Surga bukan demikian.

Dalam kajian yang dibawakan oleh Ustad Ahmad Sarwat, seorang pendiri Rumah Fiqih Indonesia yang saya dapati mengatakan bahwa ini hanya sebuah bahasa quran yang merupakan majas/kiasan/sanepan sebagai bentuk strategi dakwah Rasulullah Muhammad SAW, yang menggambarkan bukan makna sebenarnya.  Olehnya perlu dipahami dimana ayat itu turun dan seperti apa asbabul nuzul ayatnya, sehingga tidak menyimpulkan sebatas tekstual semata.

Senada dengan itu Dosen senior di Monash Law School Australia yang menggeluti bidang Hukum Islam (Syariah) dan Hukum Umum, yang juga merupakan  Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand, Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir di kutip dari nu(dot)or (dot) id mengatkan bahwa Al-Qur’an tidak boleh dipahami secara tekstual dan harfiah semata, melainkan harus dipahami konteks sosial ketika ayat tersebut diturunkan. Memahami ayat hanya dari terjemahan harfiah akan membawa kita pada pemahaman zahir akan kenikmatan surga yang dikisahkan dalam Nash,” ujarnya.

Beliau menjelaskan dalam cuitannya di Twitter dalam menjawab kasus Ustad yang mengatkan ada Pesta Seks di Surga memberi gambarkan seprti ini :

“Saya ingin beri contoh 3 kenikmatan surga: bidadari, sungai dan kebun, serta khamr. Ketiganya jangan dipahami secara zahir semata.
Iming2 kenikmatan ketiganya adalah strategi dakwah Islam sesuai konteks sosio-historis masyarakat Arab jahiliyah saat itu. Sebelum Islam datang, orang Arab istrinya gak terbatas. Islam dtg bawa aturan maksimal 4. Rugi dong kalau masuk Islam? Begitu tanya mereka.

Maka Islam menawarkan kalau kalian buat baik di dunia akan ada bidadari cantik menunggu di surga. Ini kompensasi sesuai konteks saat itu.
Bidadarinya jumlahnya berapa? Banyak, kata Islam. Cantik gak? Cantik, santun, montok, bergelang emas, selalu perawan, jawab Qur’an.
Jadi ini jawaban Qur’an pada konteks masyarakat yang masih jahiliyah, gila wanita dan merasa rugi kalau masuk Islam. Ini konteksnya.

Gak cuma itu, Qur’an kasih iming2 lain soal surga. Dulu itu org kaya adalah mrk yg punya kebun kurma banyak. Di surga gimana nanti? Ada!
Akan ada kebun yg indah, dimana akan mengalir air di bawahnya. Jgn lupa arab itu tandus dan gersang, maka surga yg diprojeksikan spt itu.

Kalau utk masyarakat Jawa yg subur, banyak kebun dan sungai tentu projeksi surga spt itu gak akan menarik lha wong udah ada hehehe. Itu sebabnya memahami penggambaran surga jgn zahir saja. Rugi nanti kalau surga isinya cuma kebun doang. Pahami ayat secara sosiologis.

Orang arab tukang minum khamr. Eh diharamkan. Rugi dong masuk Islam. Maka Islam harus memberi jawaban kompensasi kelak di surga. Maka dalam sebuah riwayat dikatakan di surga nanti ada sungai isinya khamr. Kamu minum sambil menyelam gak bakal mabuk. Puas deh.
Begitulah cara Islam berdakwah dg memprojeksikan ukuran kesenangan dan kebahagiaan masyarakat Arab pada saat itu.

Jika anak sekarang nanyanya:  di surga ada wifi gak? Boleh jadi kalau Qur’an masih turun sekrang jawabannya: “ada wifi dg kecepatan tak terbatas”. Padahal sejatinya surga itu adalah yg tak terbayangkan oleh kata dan mata serta rasa. Beyond our imagination. Pelajaran yg kita ambil dari kasus “surga yg diributkan” ini adalah: pahami ayat sesuai konteksnya dan pahami manhaj dakwah Qur’an.

Itulah sedikit ulasan Gus Nadir dalam akun twitternya. Dari sinilah saya memahami bahwa Surga yang digambarkan di Quran seperti perkataan awal saya  hanya sebuah majas personifkasi semata tentang kenikmatan surga yang tidak terbatas. Dan bagi saya pribadi kenikmatan tertinggi itu dalam konsep manusia adalah bergandengnya An-Nafs/Hawa Nafsu dengan Ruh (Cahaya Suci Allah) menuju Allah atau Tuhan sebelum melekat namaNya. Olehnya  saya pribadi hingga hari ini berpandangan carilah dan  capailah cinta Tuhan sebelum melekat semua sebutan padaNya termasuk nama Allah itu sendiri.  Senada dengan itu Cak Nun mengatkaan seperti ini :

Surga itu nggak penting..!”. Tuhan memberi bias yang bernama surga dan neraka. Tapi kebanyakan manusia hanya kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena dulu sewaktu di dunia cuma mencari surga, nggak pernah mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita kost dimana??? (Guyon)

“Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka. Fokuskan dirimu hanya pada Tuhan. Karena sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan. Dzat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam semesta…” kata Cak Nun

Dan sedikit jalan mencapai  kedekatan terhadap Tuhan  pada kondisi hari ini atas pencarian saya adalah  dengan menyebut  “Nama Diri Sendiri”. Sebab  setiap Nama  Diri sendiri tau Nama Manusia sepaket Nama Ruh, Jasad, dan Nafsu/Jiwa. Di mana Ruh Ilafi/Cahaya Tuhan inilah  kunci atau penyambung arus antara Manusia dengan Tuhan yang sangat jelas  melekat nama kita.  Olehnya Nama Setiap Manusia  merupakan titik temu Manusia dengan Tuhan sebelum melekat Nama Allah atau  sebutan lainnya. Manunggalig Kawula Gusti Sejatinya Manusia/Insan Kamil (Thaha:14).





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X